Kumpulan tulisan Muhammad Yasin, Wartawan, Blogger dan pebisnis online
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Juni 2011

Membumikan Salam

Indonesia, negara yang berpenduduk mayoritas muslim di dunia dengan 203 juta jiwa umat Muslim atau sekitar 13% dari total penduduk Muslim dunia, dikenal sebagai negara yang paling murah senyum dan salam.
Fakta tersebut ditemukan dari hasil survei The Smiling Report tahun 2009. Berdasarkan hasil survei The Smiling Report yang dilakukan antara tahun 2004 sampai 2009 ini Indonesia masuk kepada negara paling murah senyum dan salam di dunia dengan skor 98%.

Lembaga survei yang berbasis di Swedia ini menyebutkan bahwa skor terbaik ucapan salam terutama, ditemukan dalam pelayanan pemerintah (94%), sedangkan Business to Business (B2B) hanya 70%. (www.smilingreport.com)

Sayangnya, sapaan salam yang dimaksud adalah salam secara umum, seperti; selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam, selamat datang dan ucapan salam lainnya, termasuk salam khas kaum muslimin, assalamu’alaikum.

Sayang, karena memang ucapan salam di dalam Islam dengan lafadz assalamualaikum bukanlah sekedar basa-basi pembukaan semata, melainkan di dalamnya terkandung doa sebagai bentuk rasa kasih sayang yang amat bernilai antar sesama umat Islam.

Sebagaimana Sabda Rasulullah Saw: “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya. Demi Allah. Kamu tidak akan masuk surga sehingga kamu beriman, dan kamu akan beriman sehingga kamu saling cinta kasih. Maukah kamu saya tunjukan kepada sesuatu yang jika kamu kerjakan maka kamu saling bercinta kasih? Tebarkanlah salam di antara kamu.”

Pendiri Komunitas Spiritual Quantum Smile (SQS) di Yogyakarta, Pronowo, SE memahami hadits di atas sebagai ajakan Rasulullah Saw kepada umatnya untuk menebarkan salam. Maka, ia menyimpulkan, semakin banyak salam yang ditebarkan kepada orang lain, terbentuklah rasa cinta kasih.

Setelah itu, dengan banyaknya orang yang saling mencintai, Allah SWT melihat aktivitas kebaikan yang dibangun. Mereka yang beraktivitas mengajak pada kebaikan dan ingat kepada Allah, termasuk golongan orang-orang yang beriman. Kumpulan orang-orang beriman inilah yang akan masuk ke dalam surga.
Pengertian dan Sejarah Salam

Salam, menurut Guru Besar Ilmu Hadits Universitas Islam Bandung (Unisba), Prof. Dr. KH. Maman Abdurrahman, MA memiliki arti perdamaian. Di dalam bahasa Indonesia sudah dikenal lebih jauh dengan makna keselamatan. Karena memang, salam itu seakar kata dengan selamat.

“Umat Islam disebut Islam karena memang dimaknai sebagai umat yang akan selamat dunia sampai akhirat. Karena itu bahasa salam bukan hanya bahasa dunia, tapi juga bahasa akhirat. Jadi nanti orang yang masuk surga itu disambut oleh para malaikat dengan ucapan salamun alaikum,” papar Maman.

Ucapan salam diperkenalkan kepada umat manusia sejak Nabi Adam as tercipta. Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa ketika Allah SWT telah selesai menciptakan Adam as, maka Allah SWT memerintahkan kepada Adam as. untuk menemui dan memberi Salam kepada segolongan malaikat yang sedang duduk menunggu untuk kemudian Adam as diminta mendengarkan apa yang mereka ucapkan sebagai penghormatan kepadanya. Salam yang diucapkan para malaikat kepada Adam as. adalah salam hormat kepadamu dan salam hormat kepada keturunanmu (yang beriman). Maka Adam as berkata: “Assalamu’alaikum” dan mereka menjawab: “Assalamu’alaikum Warahmatullah”. ( HR. Bukhari )

Setelah itu para malaikat beberapa kali tercatat baik di dalam alquran dan hadits melakukan komunikasi kepada manusia dengan sapaan salam. Di dalam Alquran surat Adz Dzariyat ayat 24-25, diceritakan bahwa malaikat mendatangi Nabi Ibrahim dengan mengucapkan salam.

“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: "Salaamun." Ibrahim menjawab: "Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal."

Pada zaman nabi Muhammad Saw, malaikat Jibril pernah menyampaikan salam kepada isteri tercinta Nabi Muhammad, Aisyah. Nabi berkata kepada Aisyah, “Ini Malaikat Jibril, dia mengucapkan salam untukmu. Aisyah pun mengatakan engkau bisa melihat apa yang tidak bisa kami lihat.” (HR Bukhari dan Muslim).

Adapun salam dilihat dari prakteknya, menurut Prof. M. Abdurrahman terbagi kedalam dua aspek. Pertama, salam yang ada kaitannya dengan taabudi (ibadah) mahdiyah. Kedua, salam dalam arti taammuli, yaitu bermuamalah dengan orang lain.

Dalam aspek taabbudi, salam diucapkan di waktu dan tempat-tempat tertentu. Seperti, ketika mengakhiri shalat, ketika khatib membuka khutbah jumat dan yang lainnya. Sedangkan dalam aspek taammuli, salam diucapkan ketika seseorang mau membuka rapat atau ketika bertemu dengan umat Islam lainnya.

Rasulullah misalnya. Ketika mengirim surat ke kepada Heraklius raja Romawi, beliau (Saw) menuliskan salam yaitu dengan lafadz Bismillahirrahmanirrahim, salamun 'ala manittaba'al-huda (Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Keselamatan itu dilimpahkan kepada orang-orang yang mengikuti petunjuk).
Lafadz dan Hukum Mengucapkan Salam

Diriwayatkan oleh A'mran bin Hussaini: "Seorang lelaki datang kepada Nabi Saw. dan berkata, Assalamualaikum. Maka Rasulullah menjawab salam (waalaikum salam) kemudian dia duduk. Maka Rasulullah berkata “sepuluh pahala.”

Kemudian datang yang lain memberi salam dengan berkata Assalamualaikum warahmatullah, lalu Rasulullah jawab salam tadi (waalaikum salam warahmatullah), dan berkata “dua puluh pahala.” Kemudian datang yang ketiga terus berkata Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Rasulullah pun menjawab salam tadi (waalaikum salam warahmatullah wabarakatuh) dan terus duduk, maka Rasulullah berkata “tiga puluh pahala.” (HR Abu Daud dan Tirmizi)

Bacaan dan jawaban salam sebagaimana hadits di atas berarti boleh dengan lafadz, assalamualaikum, assalamualakum warahmatullah atau assalamualakum warahmatullah wabarakatuh. Masing-masing lafadz tersebut tentu memiliki keutamaan yang berbeda.

Hukum mengucapkan salam itu sendiri adalah sunnah. Tapi bagi orang yang mendengar sapaan salam, maka menjawabnya adalah wajib.

Tatacara Dan Etika Salam
Tatacara dan etika salam yang dianjurkan Rasulullah banyak terdapat di dalam Alquran dan hadits. Berikut ini beberapa tatacara dan etika salam, sebagaimana yang dipaparkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat, KH. Hafidz Utsman, kepada Alhikmah.

Pertama, Salam diungkapkan ketika hendak memasuki rumah.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS. An nur : 27).

Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. (QS. An nur : 61).

Kedua, Salam diungkapkan dari junior kepada senior, dari pejalan kepada yang duduk, dari yang yang sedikit kepada yang banyak, dari yang berkendaraan kepada yang berjalan.

Rasulullah Saw bersabda, ucapkanlah salam dari yang kecil kepada yang besar, dari pejalan kepada yang duduk,dari yang kumpulan yang sedikit kepada kumpulan yang banyak. (HR Bukhari Muslim). Diriwayat yang lain Imam Muslim menembahkan, dari orang yang naik kendaraan kepada yang berjalan.

Ucapan salam dari yang kecil kepada yang besar dalam prakteknya menurut KH. Hafidz Utsman bisa antar seorang anak kepada ayah atau murid kepada gurunya. Etika pengucapan salam bagi anak kepada ayah atau murid kepada ulama di dalam pergaulannya boleh juga dengan cium tangan.

Adapun etika sapaan salam antara sesama masih menurut Hafidz Utsman, dalam prakteknya bisa dengan mushafahah yaitu dengan jabat tangan. Namun jabat tangan di sini dibatasi hanya antara laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan atau laki-laki dengan perempuan yang muhrim.

Sedangkan etika salam bagi orang yang bukan muhrim cukup dengan menyampaikan salam tanpa harus berjabat tangan. Karena jabat tangan bagi orang yang bukan muhrim, hukumnya haram walaupun dari bawahan kepada atasan.

“Budaya salaman dengan yang bukan mahram sudah muncul di kita. Ini yang salah di masyarakat, apalagi bersalaman dengan cium pipi kanan dan cium pipi kiri. Salam itu sesungguhnya untuk memberikan keuntungan dan keberkahan. Tapi, kalau dilakukan dengan cara yang haram bukan keuntungan yang didapat, tapi dosa karena berbuat maksiat,” kata Hafidz Usman.

Atau bagi orang yang sangat sulit berjabat tangan, baik itu karena berjauhan atau berdesakan cukup dengan membaca salam dengan mengangkat satu tangan. Setelah itu tangan tersebut boleh diletakan di dada atau tangannya dicium ke bibir.

Ketiga, salam tidak hanya disampaikan kepada orang yang masih hidup.

Mengucapkan salam ini juga tidak terbatas kepada orang yang hidup, kepada yang meninggal juga dianjurkan mengucapkan salam. Ucapan yang dianjurkan Rasulullah Saw, ketika lewat kuburan adalah assalamualaikum ya ahla dar kaum mukimin (Keselamatan bagimu wahai penghuni kuburan).

Keempat, salam tidak boleh disampaikan kepada orang non muslim.

Sapaan salam kepada non muslim sudah diatur dalam ajaran Islam. Hal ini dijelaskan di dalam hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda, “Jangan kamu memulai mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nashrani, apabila kamu bertemu dengan mereka di jalan maka sempitkan jalannya”. (HR.Muslim).

“Andaikan orang non muslim mengucapkan salam kepada orang muslim maka jawab saja terimakasih. Hal ini sama saja dengan kebaikan pergaulan. Mereka tidak mengenal salam, maka kita tidak perlu mengucapkan salam. Cari saja bahasa pergaulan lainnya,” ungkap Hafidz Utsman.

Keutamaan dan Manfaat Salam
Keutamaan salam terdapat dalam hadist dari Ibn Salam, ia berkata, saya mendengar Rasulullah menyampaikan pesan. Hai manusia tebarkanlah (afsus) bacaan salam, berilah sumbangan makanan, hubungkanlah ikatan tali silaturahim dan shalatlah ketika manusia tertidur. Maka engkau nanti jaminannya akan masuk surga penuh dengan keselamatan. (HR at Tirmidzi).

\Afsus atau tebarkan itu memiliki makna biasakan membaca salam. Pengertiannya ada dua yaitu; membiasakan membaca salam dan juga mengajak orang agar membiasakan salam. Sehingga, orang tersebut mendapat jaminan tiket surga.

Selain itu, kebiasaan menebar salam itu merupakan ciri khas kemabruran haji yang layak mendapat surga. Dalam sebuah hadist disebutkan “Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga. Para sahabat berkata apa haji mabrur itu. Rasulullah bersabda engkau memberi makanan, dan menebar salam. (HR Bukhari, Muslim dan Imam Ahmad).

Lafadz salam yang terdiri dari kata assalamualaikum, warahmatullah dan wabarakatuh, setidaknya mengandung tiga keutamaan sekaligus yang akan didapatkan oleh seseorang yang mengucapkan atau menjawabnya, diantaranya, keselamatan, rahmat dan berkah.

Keselamatan artinya dia selamat dunia dan akhirat. Sedangkan rahmat adalah kebaikan dari Allah, baik yang sifatnya lahir maupun batin, atau bisa juga diartikan kasih sayang Allah.

Adapun keberkahan sebagaimana yang telah dijelaskan pada edisi sebelumnya, bermakna bertambah-tambah kebaikan (ziyadatul khair). Berkah juga sebagai sesuatu yang tidak terlihat secara kasat mata. Orang yang bisa merasakan berkah atau tidaknya sesuatu adalah orang yang bersangkutan.

Salam selain memiliki keutamaan-keutamaan sebagaimana yang dijelaskan di dalam berbagai hadits, juga memiliki manfaat yang banyak. Hal tersebut diungkap Pronowo, SE penulis buku “Spiritual Quantum Smile”.

Manfaat tersebut, diantaranya:

Manfaat Salam Antar Sesama Muslim
Membiasakan salam kepada setiap orang Islam, baik yang dikenal atau yang tidak dikenal setidaknya akan membangun cinta kasih, membentuk pribadi-pribadi yang beriman, dan akan dimasukkan oleh Allah dalam kelompok umat yang akan masuk surga.

Rasulullah Saw. bersabda Demi Dzat yang jiwaku ditangan-Nya. Demi Allah. Kamu tidak akan masuk syurga sehingga kamu beriman, dan kamu akan beriman sehingga kamu saling cinta kasih. Maukah kamu saya tujukan kepada sesuatu yang jika kamu kerjakan maka kamu saling bercinta kasih? Tebarkanlah salam di antara kamu (HR Muslim)

Manfaat salam di dalam keluarga
Setiap hari kita selalu bertemu anggota keluarga. Rutinitas pertemuan yang dilakukan jika dibiasakan mengucapkan salam maka efek yang langsung dirasakan adalah kebersamaan, ketenangan, kebahagiaan dan kepercayaan orang tua dalam melepaskan anak-anaknya pergi serta kepercayaan anak melepaskan orang tuanya pergi mencari nafkah. Rasulullah bersabda “Hendaklah mengucap salam yang muda kepada yang lebih tua.”(HR Bukhari)

Manfaat Salam di Lingkungan Tetangga
Tetangga merupakan orang yang berada di dekat rumah kita. Setiap saat kita sering bertemu tetangga. Rutinitas pertemuan yang dilakukan jika dibiasakan mengucapkan salam maka efek yang langsung dirasakan adalah, ketentraman, kerukunan dan kenyamanan.

Manfaat Salam di Sekolah, Kampus dan Pengajian
Kita sering berjumpa teman, sahabat maupun teman baru. Pertemuan yang ada jika dibiasakan mengucapkan salam, maka efek yang langsung dirasakan adalah kedamaian, ketenangan dan tali persaudaraan yang begitu erat.

Manfaat Salam di Perusahaan
Perusahan merupakan tempat pertemuan antara antara atasan dan bawahan. Apabila pertemuan ini dibiasakan dengan mengucapkan salam, maka efek yang langsung dirasakan adalah kenyamanan dalam bekerja, kepercayaan atasan terhadap bawahan, meningkatnya loyalitas pekerja serta terbangunnya kekuatan kebersamaan dalam mencapai visi misi perusahaan

Manfaat Salam di Jalan
Kita sering berjumpa dengan orang yang dikenal maupun tidak dikenal. Pertemuan di jalan ini jika kita mengawali mengucapkan salam, maka kita akan bertambah akrab, terasa bahagia, imajinasi positif terhadap orang lain yang selalu terbangun, serta adanya perasaan tenang dalam setiap langkah perjalanan.

Rasulullah bersabda,“Hendaknya orang yang berkendaraan memberi salam kepada yang berjalan. Yang berjalan kepada yang dduk yang sedikit kepada yang banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Salam, sebagaimana yang diungkap anggota Dewan Syariah Nasional MUI Pusat, Dr. Setiawan Budi Utomo, memang hakekatnya doa sekaligus sikap dan karakter positif dalam berinteraksi dengan lingkungan yang senantiasa mengharapkan kebaikan dan kedamaian bagi semuanya.

Filosofi salam, masih menurut Dr. Setiawan, sangat dalam dan luas seluas tujuan syariah yang membawa maslahat dan rahmatan lil ‘alamin. Budaya membumikan salam akan menumbuhkan lingkungan keluarga serta lingkungan sosial lainnya menjadi kondusif. Baik bagi ketenangan, kedamaian jiwa, suburnya empati dan simpati kepada orang lain.

Coba dan rasakan. Lalu – meminjam Mario Teguh – perhatikan apa yang akan terjadi!

Penulis : Muhammad Yasin
Penyunting : hbsungkaryo
Liputan : Muhammad Yasin dan Siti Rokayah
Diterbitkan oleh Tabloid Alhikmah edisi 47

Kamis, 21 April 2011

Agar Nafkah menjadi Berkah

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS Al Jumu’ah: 10)

Sahabat Rasulullah Saw, Ali bin Abi Thalib bersama istrinya Fatimah, putri Rasulullah pernah menderita kelaparan berhari-hari. Tak ada sebiji kurma pun yang bisa mereka makan di rumahnya.

Dengan berkata lirih, Fatimah menyemangati suaminya, “Pergilah mencari makanan!” Ali langsung bangkit. Ia kenakan jubah berbulu domba untuk menahan rasa dingin yang menusuk.

Sebelum menginjakkan kaki keluar, Ali berdoa kepada Allah agar dimudahkan mencari nafkah. Tiba-tiba, Ali teringat dengan seorang pedagang Yahudi yang memiliki kebun di Khaibar. Maka Ali bergegas pergi menemuinya.

Sesampainya di tempat tujuan, Ali melamar kerja kepada orang tersebut. Lamarannya pun diterima. Lalu Ali bekerja menguras air sumur dengan upah satu kurma setiap embernya.

Setelah selesai bekerja, upah pun didapat. Ali lantas menemui Rasulullah untuk menceritakan apa yang telah ia kerjakan. Rasulullah tersenyum mendengar cerita Ali. Kemudian Rasul mengajaknya makan beberapa butir kurma.

Setelah itu Ali menemui istrinya sambil membawa kurma hasil jerih payahnya. Subhanallah, Allah memberkahi kurma itu, dengan mencukupi kebutuhan keluarganya hingga beberapa hari kemudian.

Begitulah kisah Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah Saw dalam kehidupan sehari-harinya bersama sang istri tercinta, Fatimah Az Zahra. Kisah ini tentu menyiratkan kepada kita, betapa pentingnya peran seorang suami dalam mencari nafkah untuk keluarganya.

Saat ini, setiap hari kita saksikan anak manusia dengan ragam aktivitasnya hilir mudik di siang hari, bahkan malam, menjemput rizki untuk diri pun keluarganya. Ada yang mengandal otot, semisal; tukang becak dengan kayuhan pedal becaknya, pedagang sayur tradisional yang harus bercucuran peluh memikul kayu penyangga wadah sayuran, petugas pembersih jalan dengan sapunya.

Ada pula yang profesinya menuntut sumbangsih pemikiran, ketimbang otot. Misalnya; Seorang Pemimpin Puncak di sebuah perusahaan yang dituntut untuk bisa melakukan terobosan-terobosan baru yang dapat membawa perusahaan ke arah kemajuan. Seorang konsultan kebijakan publik, yang bertugas memberikan masukan-masukan berharga kepada para pejabat publik, yang membawa kemaslahatan, utamanya bagi rakyat.

Mereka adalah suami dari istrinya, sekaligus ayah dari anak-anaknya yang berjuang mencari nafkah untuk memenuhi ragam kebutuhan keluarga. Bagi yang belum berumah tangga, selain untuk diri sendiri, nafkah yang Anda cari tentu orang tua pun sebaiknya menikmati. Meski bukan sebuah kewajiban, dalam kondisi tertentu seorang istri yang ikut bekerja untuk tambahan kebutuhan keluarga, adalah fakta yang hari ini marak terjadi.

Oleh karena itu, Allah menjamin setiap orang dengan rizkinya masing-masing“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS Hud : 6)

Pengertian Nafkah
Lantas seperti apa pengertian nafkah. Nafkah dalam bahasa Arab disebut nafaqoh. Secara bahasa nafaqoh bermakna ‘keluar’ dan ‘pergi’. Misalnya, binatang melata yang keluar dari kandangnya disebut nafaqoh al-Dabbah.

Secara istilah, nafkah dalam konteks fikih bermakna harta yang dibelanjakan untuk keperluan orang-orang yang menjadi tanggung jawab seseorang, berupa sandang, pangan, papan, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. (fiqh ‘ala madzahibil arba’ah). Namun setelah disadur ke dalam bahasa Indonesia, pengertian nafkah menjadi sedikit berubah yakni, rejeki atau pendapatan.

Ada hal yang menarik di dalam pembahasan nafkah. Jika kita melihat ayat-ayat yang menerangkan nafkah di dalam Alquran, maka akan banyak ditemukan kalimat beriringan antara nafkah dan fi sabilillah.

Salah satunya terdapat dalam surat Albaqarah ayat 262 “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah (fi sabilillah), kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka...”.

Hal itu menurut Ketua Jurusan Tafsir Hadist Universitas Islam Negri Bandung (UIN) Sunan Gunung Djati, Dr Engkos Kosasih Lc, M.Ag., memiliki makna bahwa harta dalam Islam membolehkan adanya kepemilikan individu.

Tapi kepemilikan itu tidak mutlak. Ada konsep khalifah di dalamnya. Allah berfirman “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (QS. Albaqarah : 30)

Khalifah itu wakil dan kepanjangan tangan Allah Swt. Maka dengan konsep ini kepemilikan di dalam Islam dilanjutkan dengan menafkahi (yunfiquuna) dan mendistribusikannya selalu di jalan Allah (fi sabi lillah).

“Fi sabilillah ini penting karena ketika kepemilikan itu bersifat mutlak maka timbullah hedonisme dan kapitalisme yang ditentang Islam. Islam melihat dalam harta yang dimiliki seseorang terdapat hak Allah, hak manusia dan hak bersama antara Allah dan manusia,” kata Engkos.

Ketika suami mencari nafkah di situ ada hak anak dan istri. Jika nafkahnya berlebih (telah memenuhi syarat Zakat), ada hak Allah yang terletak pada orang yang fakir, miskin, pengurus zakat, para muallaf, para budak, orang yang berhutang, orang yang sedang berjuang di jalan Allah dan orang orang yang sedang dalam perjalanan, seperti yang termaktub dalam Alquran, Surat At-Taubah, ayat 60.

“Disanalah terdapat keseimbangan. Bahwa dengan konsep nafakah itu terjadi keseimbangan antara kepemilikan individu yang liberal, kapitalis dan kepemilikan dalam konsep sosialisme. Konsep Islam tentang kepemilikan berada di tengah-tengah, tidak terlalu kikir juga tidak terlalu boros,” tambah Engkos.

Nafkah Keluarga
Keluarga merupakan unit terkecil di masyarakat yang terdiri dari suami, istri dan anak-anak yang tinggal dalam satu atap, bahkan terkadang ditambah dengan kerabat dekat lainnya, semisal kakek-nenek, adik-kakak, dan lainnnya.

Dalam kehidupan keluarga tersebut, Islam telah menetapkan kewajiban laki-laki untuk mencari nafkah bagi keluarga. “…Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya….” (QS Albaqarah : 233)

Sedangkan bagi istri mencari nafkah hanya sunnah saja. Peran istri dalam mencari nafkah hanya membantu. “Fungsinya komplementer saja. kalau komplementer selama memungkinkan saja. Kalau tidak ya, jangan,” papar Engkos Kosasih Lc.

“Kecuali kalau suami dalam kondisi sakit berat, sakit dalam waktu yang lama, barangkali hukumnya darurat bagi seorang istri dalam mencari nafkah. Sang istri jika sudah dalam keadaan darurat maka ia bisa mengambil alih kemudi sang suami,” tambahnya.

Saking pentingnya peran suami dalam memberi nafkah, istri yang hendak dithalak pun masih memiliki hak nafkah dari suaminya. “Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik.” (QS. Ath thalak : 6).

Ada alasan tertentu kenapa Islam mewajibkan mencari nafkah kepada seorang suami bukan kepada istri. Di dalam Alquran sangat jelas disebutkan bahwa suami itu Qawwam. “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin (qawwam) bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS An Nisa : 34).

Qawwam disini adalah peran suami sebagai penyangga, pelindung, penyuplai dan sifat-sifat pemimpin lainnya. Oleh karena itu Allah memberikan kelebihan bagi para suami. “karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)”. kelebihan tersebut berupa kekuatan energi, emosi dan ketangguhan dalam perjuangan mencari nafkah.

Suami yang memiliki ketegaran, kehebatan dan kekuatan dalam mencari nafkah itulah tipe suami yang ideal. Ia menjadi teladan bagi keluarganya. Oleh karena itu istri wajib taat kepada suami. Inilah hubungan simbiosis mutualisme. Suami wajib mencari nafkah sedangkan istri wajib mentaati suami.

Rasulullah sampai memberikan penghargaan kepada orang yang keluar mencari nafkah yaitu statusnya sama dengan berjihad di jalan Allah (Jihad Fi Sabi lillah). Artinya kalau suami sedang mencari nafkah untuk anak istrinya, kemudian meninggal, dia telah syahid.

“…kalau ada seseorang keluar dari rumahnya untuk bekerja guna membiaya anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha Fisabilillah. Jikalau ia bekerja untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itupun Fisabilillah. Tetapi apabila ia bekerja untuk pamer atau untuk bermegah-megahan, maka itulah Fisabili Syaithan atau karena mengikutu jalan Syaithan.” (HR. Thabrani)

Hadist lainnya dari Abu Hurairah ra., Nabi Saw bersabda; ”Orang-orang yang berusaha mencari nafkah untuk perempuan-perempuan yang tidak (belum) bersuami dan untuk orang-orang miskin, sama dengan orang-orang yang berperang fi sabilillah”.

Selain kemuliaan fii sabilillah, Rasulullah Saw menjanjikan surga dan perjumpaan dengannya kelak, bagi suami yang berjuang mencari nafkah bagi keluarganya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda, “Orang-orang yang bertanggung jawab mengurus anak yatim, baik dari keluarga sendiri atau tidak, maka aku dan dia seperti dua ini kelak di surga”. Dan beliau memberi isyarat dengan merapatkan jari telunjuk dan jari tengah (artinya berdekatan).

Sebaliknya suami yang melepas tanggung jawabnya dalam mencari nafkah tanpa ada alasan yang dibenarkan oleh syariat akan mendapatkan dosa. “Dia mendapat celaan karena tidak melaksanakan kewajiban. Berarti dia telah melakukan dosa. Dia juga tidak muasarah bi maruf (berbuat baik kepada keluarga). Dia telah mengkhianati mitsaqan ghaliza (perjanjian yang kuat dan sangat berat) ketika pertama kali ijab Kabul,” kata Engkos.

Nafkah Yang Berkah
Peran suami dalam mencari nafkah tidak sekedar meraup sebanyak-banyaknya harta, dengan segala cara, tanpa memandang kaidah halal-haram. Karenanya, kejarlah nafkah yang memberikan keberkahan bagi diri, keluarga, kerabat dekat, serta orang lain.

Lalu, seperti apakah pengertian berkah?
Founder gerakan Umat terbaik Hidup Berkah (UTHB), Samsul Arifin, mengatakan bahwa berkah dalam bahasa Arab diambil dari kata Barakah, yang bermakna bertambah-tambah kebaikan (ziyadatul khair). Bagi seorang muslim, menurut Samsul, kebaikan adalah hasil dari ketaatan kepada aturan Allah SWT dan menjauhi sejauh-jauhnya segala larangan-Nya.

Melengkapi Samsul, Ketua Komisi Fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat, Dr. K.H. Salim Umar, M.A., memaknai berkah sebagai sesuatu yang tidak terlihat secara kasat mata. “Yang bisa merasakan berkah atau tidaknya sesuatu adalah orang yang bersangkutan,” katanya.

Ukuran bahwa nafkah seseorang itu berkah, menurut Salim, adalah yang memiliki tingkat pemanfaatan tinggi. Ia mencontohkan, dengan adanya televisi, orang menjadi rajin menyaring informasi dan meraup banyak ilmu, bukan sebaliknya, menjadi malas.

Masih menurut KH. Salim Umar, nafkah yang berkah minimal memenuhi kebutuhan pokok (alhajiyat) semisal; makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal (sandang pangan, papan_red).

“Jika masih berlebih, maka nafkah harus memenuhi kebutuhan tambahan seperti pendidikan, kesehatan, serta hak asasi seorang manusia lainnya. Selanjutnya, jika nafkah masih menyimpan kelebihan, maka harus memenuhi kebutuhan penyempurna (kamaliah), seperti; olahraga, rekreasi, dan lainnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Jurusan Tafsir Hadist Universitas Islam Negeri Bandung (UIN) Sunan Gunung Djati, Dr Engkos Kosasih Lc, M.Ag. menyebut nafkah yang berkah adalah yang memberikan ketenangan. “Dari segi nominal mungkin tidak bertambah, tapi memiliki efek turunan,” katanya.

Misalnya, ia mencontohkan, dengan nafkah seseorang dicintai istri dan anaknya, banyak teman, berwibawa, dan hal positif lainnya yang terpancar dari orang tersebut, termasuk perilaku positif dari orang lain kepada dirinya.

“Mungkin juga berkah itu bertambahnya nominal harta. Karena tidak mungkin harta yang disedekahkan itu berkurang, dan tidak mungkin orang miskin karena sedekah. Hanya hasilnya itu bisa kuantitatif atau kualitatif, itu tidak pasti,” tambah Engkos.

Langkah-langkah Meraih Berkah
Apa yang harus suami lakukan agar nafkahnya menjadi berkah? Paling tidak ada empat langkah yang mesti diperhatikan para suami dalam mencari nafkah.

Pertama, mencari nafkah merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT yang wajib dilaksanakan oleh para suami. Maka niatkanlah setiap mencari nafkah dengan niat ibadah.“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS Al Jumu’ah: 10)

Kedua, mencari nafkah haruslah bersumber dari yang halal. Selain halal, nafkah juga harus berkualitas. Kualitas itu harus ada standar gizinya, agar yang menerima nafkah itu menjadi tumbuh hebat secara jasmani dan rohani. Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi (Albaqarah : 168)

Ketiga, cara menjemput nafkah harus dengan cara yang halal, bukan mencuri, menipu, korupsi, berjudi, memeras, menggunakan riba serta cara lain yang dilarang dalam Islam.

Ketiga, pendistribusian nafkah harus diberikan kepada orang yang diridhai Allah SWT. Misalnya, menafkahi istri dan anak-anak, memberi kepada orang tua dan saudara, dan berinfak di jalan Allah SWT.

“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya”. (QS. Al Baqarah : 215)

Pemberian rizki kepada kerabat atau tanggungan suami haruslah dipantau, Jangan sampai digunakan berlebihan atau mubazir, apalagi digunakan dalam rangka maksiat kepada Allah SWT.

Keempat, nafkah yang diperoleh harus dikeluarkan hak-hak sosial, baik yang wajib dan sunnah -semisal zakat, infak-sedekah, wakaf, maupun yang sukarela, seperti hadiah, hibah, sumbangan, dan lain-lain.

Melalui proses di atas, insya Allah nafkah kita menjadi berkah dan terus bertambah. Sebagaimana janji Allah dalam wahyu suci-Nya, “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rejeki), dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS Al Baqarah: 245).

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Albaqarah : 261)

Wallahu a'lam

Penulis : Muhammad Yasin
Penyunting : hbsungkaryo
Tim Liputan : M. Yasin
Diterbitkan oleh Tabloid Alhikmah edisi 46

Minggu, 03 April 2011

Sabar Menghadapi Ujian

Nina, seorang ibu asal Ujung Berung Bandung yang terbatas secara finansial tengah menjalani operasi caesar untuk melahirkan anak ketiganya di RS Sariningsih, Bandung. Suaminya, Sofyan, seorang buruh serabutan, saat itu tengah bekerja.

Anak kedua mereka, Iqbal Maulana Sofyan (4 tahun), terpaksa dititipkan di rumah neneknya, di Garut. Sementara Arul sebagai anak tertua (13 tahun), dianggap cukup umur untuk ditinggal di rumah.

Nina berhasil melahirkan anak ketiganya. Tapi tagihan Rp 7 juta, menghambat Nina keluar dari Rumah Sakit. Melalui pinjaman tetangga, Nina pun berhasil pulang.

Tak lama setelahnya, Arul dan ayahnya menjemput sang adik di Garut. Malang, di tengah perjalanan mereka mengelami kecelakaan. Arul dan ayahnya terlempar. Arul bahkan terpental hingga ke tengah aspal. Dalam keadaan terlentang, kaki kanannya terlindas truk.

Arul kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung. Ia koma selama dua minggu, dan kakinya terpaksa diamputasi. Sementara, di tempat berbeda, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Garut, ayahnya pun menjalani perawatan.

Di saat bersamaan, Nina harus kembali menjalani perawatan di RS Sariningsih, lantaran mengalami pendarahan. Tak terbayangkan, tiga anggota keluarga harus dirawat di tiga rumah sakit berbeda. Terlebih, mereka berasal dari keluarga lemah finansial. Begitulah musibah yang menimpa Nina bersama keluarga di awal tahun 2009. Meski tak bersifat Masif, namun tetap menyisakan kesedihan.

Sebelumnya, negeri ini seolah tak pernah sepi dari musibah. Mulai Tsunami Aceh, 26 Desember 2004 silam yang melayangkan ratusan ribu nyawa manusia. Gempa Jogja, dua tahun setelahnya, 2006. Gempa Jabar dan Padang yang berturut-turut terjadi di bulan September 2009, pun tak sedikit menguras air mata.

Yang terbaru, musibah longsor Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, akhir Februari 2010 lalu yang menelan 47 korban jiwa, dan puluhan rumah tinggal para pekerja perkebunan teh Dewata. Dan beberapa lainnya.

Pengertian Musibah
Musibah. Kata yang kerap terdengar di telinga kita. Secara harfiah, musibah menurut Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, MS. sebagaimana yang dilansir republika, adalah segala sesuatu yang menyebabkan seseorang terkejut, kaget, merasa tidak nyaman, merasa sakit, dan merasa terluka saat menerimanya.

Tentu saja skala dan eskalasi musibah itu bervariasi. Bisa kecil, sedang, besar, atau bahkan dahsyat. Bisa pula menimpa seseorang, keluarga, masyarakat, dan bangsa, atau menimpa seluruh umat manusia.

Didin mencontohkan sakit, kehilangan benda berharga, Banjir yang datang tiba-tiba yang menghanyutkan manusia dan benda-benda, Gunung meletus, serta gempa bumi, pun merupakan musibah.

Lebih rinci lagi, Founder Ma’had Alquran dan Dirosah Islamiyah (MAQDIS), KH. Saiful Islam Mubarak, Lc., M.Ag memulai penjelasan musibah dari makna harfiahnya. “Musibah berasal dari kata dari asaba yang memiliki arti mengenai, menyentuh atau menimpa. Menimpa di sini, bermakna bahwa musibah bisa menimpa kepada yang manis dan kepada yang pahit,” katanya.

Ia mencontohkan, saat para sahabat Rasul mendapatkan amanah menjadi khalifah, lalu melafalkan Innalillah... “Itu musibah yang tampilannya manis. Tapi sangat berat tanggungjawabnya dihadapan Allah. Sedangkan musibah pahit diantaranya bisa kehilangan sesuatu, kehilangan orang yang dicintai, hilang barang dan lain-lain,” tutur Muballigh kondang asal Jawa Barat ini.

Musibah tak hanya berlaku bagi umat Islam. Orang-orang kafir, menurut Saiful, juga akan mengalami musibah. Bedanya, Orang lain tidak mengharapkan ampunan sedangkan kita mengharapkan ampunan Allah SWT.

Sebagaimana Firman-Nya, “Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An nisa 104).

Musibah Adalah Ujian
Allah SWT menegaskan di dalam Alquran. “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan segala sesuatu termasuk rasa takut, kelaparan, dan kekurangan harta dan jiwa, serta buah-buahan. Maka berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Mereka itulah orang-orang yang mendapat keselamatan dan kasih sayang-Nya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.’ (QS. Al-Baqarah: 155-157).

Ayat di atas, menurut Pimpinan Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Anshorulloh, Ciamis, Ustadz Fauzan Al anshari, telah menjelaskan secara gamblang bahwa Allah SWT akan menguji hamba-Nya baik yang muslim maupun yang kafir dengan segala sesuatu yang menimbulkan rasa rakut seperti longsor, banjir, gempa bumi, gunung meletus, tsunami, halilintar bersaut-sautan dan sebagainya.

“Apakah dengan ujian itu akan mendekatkan kepada Allah SWT atau justru lebih akrab dengan dukun, paranormal, orang pinter, futurolog atau tukang ramal untuk menerawang nasibnya pada masa depan?” katanya.

Masih menurut Fauzan, bagi orang-orang yang tidak beriman dengan benar kepada Allah SWT, maka larinya pasti kepada selain Allah, meratapi nasibnya seolah-olah dialah yang paling menderita di dunia ini, bahkan tak jarang yang menyalahkan sang Khalik.

“Mereka kira dengan menjalankan shalat dan puasa tidak akan ditimpa musibah. Mari kita renungkan, andai kita punya sejumlah anak, tentu dengan berbagai rasa kasih sayang yang berbeda, maka kita pun akan melakukan ujian kepada mereka untuk melihat siapa yang paling baik sikapnya,” kata Fauzan.

Inilah tujuan dari musibah yang diberikan kepada umat Islam, seperti disitir dalam Wahyu Suci-Nya. “Sesungguhnya Kami jadikan seluruh isi bumi sebagai perhiasan untuk menguji kamu: siapa yang paling baik amalmu. Kemudian Kami jadikan semua perhiasan itu kembali menjadi tanah kering.” (QS. Al-Kahfi: 7-8)
Menghadapi Ujian (musibah)

“Sabar, ya.... sabar” kalimat motivatif yang kerap kita dengar diucapkan kepada sanak saudara, rekan ataupun handai taulan saat mereka tengah ditimpa musibah. Sebagian menganggap klise kata ini. Namun demikian, itulah kata kunci dalam menghadapi beragam ujian yang datang silih berganti.

“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan segala sesuatu termasuk rasa takut, kelaparan, dan kekurangan harta dan jiwa, serta buah-buahan. Maka berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Albaqarah : 155)

Alquran, menurut KH. Saiful Islam Mubarak, Lc., M.Ag , banyak sekali berbicara tentang sabar, semisal ayat yang disitir di atas. Dan perintah bersabar dalam Alquran, tambah Saiful, meliputi semua kondisi. Tidak hanya ditujukan kepada orang yang terkena musibah semata, melainkan juga ditujukan kepada mereka yang menerima kenikmatan.

“Ringkasnya sabar itu tidak dibatasi tempat, waktu atau kadarnya. Ada orang berkata sabar ada batasnya. Yang membatasi itu kemampuan dirinya. Sebetulnya sabar tidak ada batasnya. Dia harus terus bersabar. Tingkatkan lagi dan tingkatkan lagi. Semakin meningkat kesabarannya, yakinlah Allah semakin dekat dengan kita, dan itulah kenikmatan yang hakiki,“ katanya.

Selain itu, masih menurut Saiful Islam, sabar sering dipahami orang dengan cara menahan diri. Padahal tidak demikian. Dalam alquran banyak sekali perintah sabar itu ditujukan kepada orang yang sedang bergerak.

Ia mencontohkan doa pasukan Thalut untuk menambah semangat melawan musuh. “Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdoa: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." (QS Albaqarah : 250).

Maka selama iman ada di dalam kalbu, perintah sabar tidak akan lepas. Oleh karena itu para ulama mengaitkan sabar itu dalam menjalani ketaatan kepada Allah SWT, meninggalkan kemaksiatan, dan sabar dalam menghadapi musibah.

Sabar dalam ketaatan, artinya dalam melaksanakan ketaatan sangat mementingkan dan selalu mengharap ridha Allah. Sehingga yang berat akan terasa ringan, dan yang jauh akan terasa dekat. “Ketaatan juga perlu sabar. Tanpa kesabaran, tidak akan tercapai ketaatan. Rasul melaksanakan ibadah di malam hari sampai bengkak itu karena kesabaran beliau. Orang punya uang banyak, ingin berinfak, kalau tidak sabar tidak jadi infaknya,” kata Saiful Islam.

Sabar dalam menghadapi maksiat, berarti kesabaran terhadap segala hal yang telah jelas dilarang. Sabar dalam menghadapi musibah, baik itu jenis musibah yang berupa ketetapan Allah, tanpa dipengaruhi oleh campur tangan makhluk, pun jenis musibah yang dipengaruhi oleh peran makhluk (manusia) di dalamnya.

Bahkan, Zein Abidin, seorang Motivator Muslim Indonesia meyakini bahwa musibah apapun yang terjadi jika diimani sebagai ujian akan berujung pada sebuah keajaiban. “Keajaiban tersebut dapat berupa bertambahnya kemudahan di masa depan, kenaikan derajat kehidupan maupun meningkatnya kemuliaan di mata Allah,” katanya.

Zein menyitir sebuah Hadists yang berbunyi, “Ajaib sekali keadaan orang mukmin itu, sesungguhnya semua keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan ada lagi seseorang pun melainkan hanya untuk orang mukmin itu belaka, yaitu apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, ia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya, sedang apabila ia ditimpa oleh kesukaran - yakni yang merupakan musibah - ia pun bersabar dan hal ini pun adalah merupakan kebaikan baginya." (H.R. Muslim)

“Sebuah motivasi iman kita bahwa ternyata sikap terbaik saat mendapat musibah yang akan berbuah keajaiban itu adalah sabar,” kata Zein.

Ia memiliki rumusan tersendiri dalam menghadapi musibah, yakni dengan ilmu Motivasi Sabar. Motivasi, menurut Zein adalah gabungan dari kata Motif dan Aksi. Motif dapat berarti Tujuan, sedangkan Aksi adalah sikap yang dipilih.

Manusia, Zein melanjutkan, adalah makhluk mulia yang dikaruniakan akal oleh Allah Swt sehingga bisa memilih. Maka Sabar adalah pilihan cara berpikir, cara mengimani bahwa di setiap kejadian yang dihidangkan Allah dalam kehidupan kita pasti ada tujuan baiknya.

Sabar kemudian adalah memilih sikap yang terbaik dari diri kita ketika musibah menimpa. “Apakah menenggelamkan diri dalam gelisah ataukah memilih membangun tekad harapan bersama Allah? Apakah lisan semata mengeluh ataukah memilih melantunkan doa kesabaran? Adakah kita biarkan jatuh diri dalam keterpurukan atau memilih bangkit lanjutkan kehidupan dengan Iman?” simpul Zein.

Sabar Membawa Nikmat
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Alhadid : 22-23)

Ayat di atas mengandung makna bahwa segala sesuatu yang menimpa umat Islam jika disikapi dengan iman dan ridha tentu akan membawa keberuntungan bagi dirinya. Hanya saja terkadang kita merasa diri sulit menemukan keberuntungan yang dijanjikan Allah. Kalau kita tafakuri dan resapi entah besok atau lusa, atau mungkin ketika kita lupa baru kenikmatan itu datang menghampiri kita.

Di dalam surat albaqarah ayat 157. Allah menjanjikan tiga hal kepada orang-orang yang sabar yaitu Shalawat (mendapat keselamatan), warahmat (mendapat kasih sayang-Nya) serta muhtadun (mendapat petunjuk).

“Mereka itulah orang-orang yang mendapat keselamatan dan kasih sayang-Nya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Albaqarah 157)

Semakin berat musibah yang menimpa seseorang, lalu ia mampu bersabar, maka semakin tinggi kedudukannya di hadapan Allah. Tentu hal tersebut akan menjadi kenikmatan tersendiri bagi siapapun yang mampu menghadapi musibah dengan sabar.

Umar bin Khattab ra, misalnya. Salah seorang sahabat Rasulullah Saw ini pernah jatuh sakit. Tak sedikitpun mengeluh, ia malah bersyukur akan empat hal, “Pertama, Aku bisa membaca penyakit orang lain yang lebih parah dariku. Kedua, Aku merasa nikmat ketika penyakit menimpa fisik tidak menimpa iman. Ketiga, dalam kondisi seperti ini nikmatnya ridha kapada Allah. Keempat, aku semakin yakin akan surga yang telah dinantikan.”

Begitulah sikap para sahabat didikan Rasulullah Saw dalam menghadapi ragam ujian. Musibah tak membuat mereka terpuruk. Musibah justru membuat mereka bangkit dan kemudian berjaya. Pun semoga kita, Insya Allah. Wallahu ‘alam

Penulis : Muhammad Yasin
Penyunting : hbsungkaryo
Diterbitkan oleh Tabloid Alhikmah edisi 45

Jumat, 25 Maret 2011

Disiplin Shalat Membawa Nikmat

“Sebuah riset di Amerika menegaskan,bahwa shalat dapat memberikan kekuatan terhadap tingkat kekebalan tubuh orang-orang yang rajin melaksanakannya melawan berbagai penyakit, salah satunya penyakit kanker.”

Allah SWT dalam menyampaikan wahyunya kepada Nabi Muhammad Saw menggunakan perantara Malaikat Jibril. Namun wahyu untuk perintah shalat, tidak seperti biasanya. Allah SWT saat itu langsung mengundang Nabi Muhammad Saw ke langit.

Bahkan dalam beberapa riwayat Bukhari dan Muslim, isi hati Rasulullah dibersihkan dulu dengan cara dibedah oleh malaikat Jibril. Pertemuan Allah SWT dan Nabi Muhammad Saw ini kemudian dikenal dengan sebutan peristiwa Isra Miraj.

Shalat merupakan salah satu ibadah wajib diantara ibadah-ibadah wajib lainnya. Sebagaimana termaktub dalam alquran surat Ibrahim ayat 31. “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: Hendaklah mereka mendirikan shalat..”

Tapi shalat memiliki perbedaan dari ibadah wajib lainnya. Perbedaan tersebut selain dari segi penerimaan wahyu secara langsung, juga terletak dari penekanan keutamaan shalat itu sendiri.

Jika dengan alasan yang dibenarkan oleh syariat seseorang tidak mampu mengerjakan kewajiban shaum, zakat dan haji, itu tak menjadi soal. Lain halnya dengan shalat. Seandainya tak tersedia air untuk bersuci, maka gunakan debu, yang kita kenal dengan istilah tayamum. Jika tengah dalam perjalanan, ada dispensasi dengan meringkaskan shalat (shalat Safar). Ketika tak mampu berdiri, maka ada keringanan dengan cara duduk. Jika tidak mampu duduk, maka berbaringlah. Jika tidak bisa dengan berbaring, maka gunakan isyarat mata.

Jika tidak hafal bacaan-bacaan shalat, bacalah takbir atau bacaan lainnya yang mudah. Bahkan, saat berada di tengah medan pertempuran pun, shalat harus tetap ditegakkan (Shalat Khauf). Perintah shalat baru bisa gugur apabila seseorang mengalami kehilangan ingatan (gila) dan perempuan sedang mengalami masa haidh dan nifas.

Maka tidak aneh jika kemudian Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa menjaganya (shalat), maka shalat itu baginya menjadi cahaya, bukti dan keselamatan di hari kiamat. Siapa yang tidak menjaganya, maka shalat itu tidak menjadi cahaya baginya, tidak menjadi bukti, dan tidak menjadi keselamatan. Dan di hari kiamat dia itu bersama Qarun, Firaun, Hamam, dan Ubaiy Ibnu Khalaf.” (HR Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al Haitsami).

Definisi dan Dimensi
Nabil Abdurrahman, Lc dalam artikelnya “Manfaat Dimensi Shalat dalam Sendi Kehidupan Manusia” menuliskan terminologi shalat sebagai sebuah ibadah yang terdiri dari beberapa ucapan dan gerakan yang sudah ditentukan aturannya yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. 

Lebih jauh, definisi ini merupakan hasil rumusan dari apa yang disabdakan Nabi SAW: “Shalatlah kalian, sebagaimana kalian melihat aku shalat”. Dengan demikian, dasar pelaksanaan shalat adalah shalat sebagaimana yang sudah dicontohkan Nabi SAW mulai bacaan hingga berbagai gerakan di dalamnya, sehingga tidak ada modifikasi dan inovasi dalam praktik shalat.

Adapun secara etimologi, Nabil mengatakan, bahwa Shalat bermakna doa. Shalat dengan makna doa tersirat di dalam salah satu ayat al-Qur;an: “Dan shalatlah (mendo’alah) untuk mereka. Sesungguhnya shalat (do’a) kamu itu ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(QS. At-Taubah: 103)

Shalat diartikan dengan doa, karena pada hakikatnya shalat adalah suatu hubungan vertikal antara hamba dengan Tuhannya, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Sesungguhnya hamba, apabila ia berdiri untuk melaksanakan shalat, tidak lain ia berbisik pada Tuhannya. Maka hendaklah masing-masing di antara kalian memperhatikan kepada siapa dia berbisik”.

Ia mengklasifikasikan pengaruh shalat ke dalam Tiga dimensi: Dimensi Rohani, Dimensi Sosial, dan dimensi medis.

Dimensi Rohani Shalat mencakup kesadaran sepenuhnya apa yang dilakukan dan apa yang diucapkan dalam shalatnya. Dalam hadist riwayat Abu Hurairah di sebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Berapa banyak orang yang melaksanakan shalat, keuntungan yang diperoleh dari shalatnya, hanyalah capai dan payah saja." (HR. Ibnu Majah).

Seorang yang tidak mampu berdiri karena sakit, bisa mengganti gerakan berdirinya dengan hanya duduk, mengganti gerakan ruku'nya dengan isyarat sedikit membungkuk. Demikian juga sujudnya. Tidak bisa berdiri diperbolehkan duduk. Tidak bisa duduk dengan berbaring dan sebagainya.Sedangkan gerakan batin tidak bisa di ganti. Ini yang mutlak harus ada. Tanpa kehadiran hati, shalat hanya merupakan gerakan tanpa arti.

Dimensi Sosial Shalat mengandung arti bahwa shalat merupakan salah satu rukun Islam yang mendasar dan pijakan utama dalam mewujudkan sistem sosial Islam. Setelah seorang hamba melakukan hubungan (komunikasi) yang baik dengan Allah, dengan melaksanakan shalat, maka diharapkan hubungan yang baik tersebut juga berdampak pada hubungan yang baik kepada sesama manusia.

Hal ini diwujudkan dengan jaminan melakukan apa saja yang dibenarkan syariah guna membantu saudara-saudaranya yang memang membutuhkan. Yang kaya membantu yang miskin, yang kuasa membantu yang teraniaya, yang berilmu membantu yang masih belajar, supaya terjadi hubungan yang serasi dan harmonis.

Dimensi Medis Shalat, mencakup bagaimana shalat itu berdampak langsung terhadap kesehatan fisik seorang muslim. Sebuah riset di Amerika menegaskan,bahwa shalat dapat memberikan kekuatan terhadap tingkat kekebalan tubuh orang-orang yang rajin melaksanakannya melawan berbagai penyakit, salah satunya penyakit kanker.

Riset itu pun mengungkapkan, tubuh orang-orang yang shalat jarang mengandung persentase tidak normal dari protein imun Antarlokin dibanding orang-orang yang tidak shalat. Protein imun Antarlokin adalah protein yang terkait dengan beragam jenis penyakit menua, di samping sebab lain yang mempengaruhi alat kekebalan tubuh seperti stres dan penyakit-penyakit akut.

Hikmah Menjaga Shalat
Allah SWT menyampaikan perintah shalat kepada nabi Muhammad Saw ketika peristiwa Isra Mi’raj, dengan lima waktu yang berbeda-beda dalam sehari semalam.

Yaitu ketika tampak fajar di bawah ufuk sebelah timur (Subuh), ketika tergelincirnya matahari (Zuhur), ketika panjang bayang-bayang benda melebihi panjang benda itu sendiri (Asar), ketika tenggelamnya matahari (Magrib) dan ketika hilangnya mega merah (Isa).

Berkaitan dengan pembagian waktu shalat, Wijaya Kusumah, seorang motivator sekaligus praktisi ICT (Information & Communications Technology) ini meyakini adanya hikmah yang terkandung di dalamnya.
Sholat Subuh misalnya, dikerjakan waktu fajar, agar manusia terbangun dari tidurnya. Shalat Zuhur dilaksanakan di siang hari, agar manusia ingat akan Tuhan-Nya saat sedang asyik-asyiknya bekerja.

Shalat Asar dilaksanakan sore karena manusia semakin sibuk dengan urusan dunianya. Maka, Allah memintanya untuk mendirikan shalat.

Ketika waktu magrib menjelang, maka mulailah matahari terbenam yang menandakan waktu siang telah berakhir dan malam akan segera menjelang. Sedangkan Shalat Isa, manusia diminta melakukan refleksi diri tentang apa yang telah dilakukannya seharian.

“Dari perbedaan waktu sholat itu, jelas sekali bila Allah selalu mengingatkan kita sebagai hambanya agar menyembah Tuhan yang telah menciptakannya,” kata Wijaya.

Sebuah penelitian bersumber dari National Geographic 2002 Road to Mecca menyebutkan, Doktor Neurologi sekaligus muallaf asal Amerika Serikat, Dr. Fidelma menemukan beberapa urat saraf di dalam otak manusia yang tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup supaya otak berfungsi normal.

Darah tersebut akan memasuki urat saraf di dalam otak hanya di saat-saat tertentu, ketika seseorang melakukan shalat, yaitu ketika sujud. Dan subhanallah, shalat yang dilaksanakan dalam lima waktu yang berbeda, adalah saat ketika urat saraf di otak kita tersebut memerlukan pasokan darah.

Selain mengandung hikmah dibalik penetapan waktu yang berbeda-beda, Shalat juga menurut Pimpinan Pondok Pesantren Alquran Babussalam, Bandung, K.H. Mochtar Adam mengandung efek positif bagi seluruh segi kehidupan manusia. Aspek tersebut mencakup; aspek kesehatan fisik, aspek kesehatan spiritual hingga aspek ekonomi seorang muslim.

”Orang yang disiplin sholat, insya Allah akan memperoleh kelapangan rezeki, keberkahan harta. Cuma untuk menjamin kedisiplinan ini dibutuhkan sebuah amalan yang terjaga, yaitu menjaga wudhu setiap saat, membiasakan baca Alquran dan membiasakan hidup dalam majelis taklim,” katanya.

Tentang relasi disiplin shalat dengan aspek ekonomi seorang muslim diamini Ketua Umum Keluarga Insan Tahajud Call Indonesia (KITa Call), Agus Hamdani. Hal ini muncul, menurut Agus, dikarenakan orang yang disiplin mengerjakan shalat tepat waktu akan memiliki etos kerja yang sangat tinggi.

“Jika kita tidak menghargai waktu, jangan berpikir etos kerja yang tinggi. Orang yang tidak menghargai waktu pasti orang yang sangat lalai. Artinya orang yang tidak mampu memenej waktunya berarti etos kerjanya lemah,” ungkap pria akrab disapa Kang Agus Almuhajir ini kepada Alhikmah.

Selain itu tambah Agus, Allah SWT memberi rumusan dalam alquran, dengan mengingat Allah, maka hati akan tentram. (QS Ar-Ra'd: 28) Shalat itu mengingat Allah. Orang yang stress tidak akan bisa bekerja dengan optimal. Begitu juga orang yang tidak tenang dan tidak konsentrasi, tak akan bisa bekerja dengan optimal.

Agar Shalat Kita Bermakna
“Celakalah orang-orang yang shalat, tetapi lalai akan (makna) shalat, yaitu mereka yang riya’ dan menghalangi pemberian bantuan” (QS. 107: 47).

Agar shalat kita bermakna, tentu tak sekedar melaksanakannya, melainkan mengaplikasikan nilai-nilai yang terkandung di dalam ibadah shalat itu sendiri dalam keseharian kita selaku hamba-Nya.Prosesnya tentu tidak seketika, tetapi dimulai secara bertahap.

Ketua Program Magister Studi Islam Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Prof. Dr. H. Amir Mu'allim, MIS, sebagaimana pendapat Iqbal, membagi tahap perkembangan religiusitas seseorang menjadi tiga fase: fase keyakinan, pemikiran dan penemuan.

Fase keyakinan ditandai dengan disiplin kuat yang harus diterima oleh perseorangan maupun kelompok. Disipilin ini sebagai perintah tanpa syarat dan tanpa pengertian rasional tentang makna dan tujuan dari perintah shalat tersebut.

Fase pemikiran adalah munculnya pengertian rasional terhadap disiplin shalat dan sumber asasi kekuasaannya. Pada fase ini kehidupan agama mencari landasan metafisika, suatu pandangan yang logis mengenai dunia dan Penciptanya.

Fase penemuan, metafisika tergeser oleh psikologi. Selanjutnya kehidupan religius mengembangkan hasrat mengadakan hubungan langsung dengan realitas terakhir. Pada fase ini shalat menjadi persenyawaan pribadi antara kehidupan dan kekuasaan.

Hal ini menyebabkan seseorang mencapai kepribadian yang merdeka, namun tidak melepaskan diri dari ikatan hukum. Di sini individu menemukan sumber asasi hukum di kedalaman kesadarannya sendiri.

“Musholli (Orang yang shalat) yang akan mampu merasakan manfaat dari shalatnya adalah yang telah memasuki fase kedua dan ketiga. Untuk memasuki fase kedua dan ketiga musholli harus memproses dirinya menuju fase kedua, yaitu Fase pemikiran. Proses menuju fase kedua ini dapat dimulai dengan memahami esensi shalat dan hikmah tasyri’ yang ada dalam shalat,” ungkap Amir kepada Alhikmah.

Untuk memahami esensi shalat dan hikmah tasyrinya diawali dari pengertian perintah shalat. Perintah-perintah shalat dalam alquran, hampir semua menggunakan aqimu, aqimu bukan terambil dari kata qoma yang berarti “berdiri”. Tetapi kata aqimu itu berarti “bersinambung dan sempurna”. Sehingga perintah shalat bermakna “melaksanakan dengan baik, khusyuk dan bersinambungan sesuai dengan syarat rukun dan sunnahnya.”

Setelah memahami perintah shalat maka selanjutnya masuk ke makna shalat itu sendiri. Shalat berarti do’a. Do’a adalah keinginan yang dimohonkan kepada Allah SWT. Jika seseorang memohon, maka harus merasakan kelemahan dan kebutuhan di hadapan Dzat tempat memohon.

Shalat yang dilakukan dengan penghayatan bahwa dirinya tak lebih dari seorang hamba, yang menerima karunia berupa segala apa yang melekat pada dirinya; mulai dari bulu mata sampai detakan nafasnya dan rasa kebutuhannya akan kasih, sayang dan pertolongan-Nya, paling tidak akan memberikan kekhusyukan dalam shalat.

Esensi shalat juga dapat ditelusuri adalah dari pemahaman bahwa shalat adalah kesempatan merasakan berinteraksi dengan Allah SWT. Sebagaimana sabda Nabi tentang keutamaan surat al Fatihah yang diriwayatkan dari Abu Hurairah dan Ibnu Ka’ab.

“Allah tidak menurunkan surat seperti surat al Fatihah, baik di dalam kitab Taurat dan kitab Injil. Surat al Fatihah adalah surat yang terdiri dari tujuh ayat yang terbagi menjadi dua bagian, satu bagian untuk-Ku dan satu untuk hamba-Ku.”

Bagian Allah SWT adalah saat dibaca basmallah sampai maliki yaumiddin, dan bagian hamba adalah mulai iyyakana’budu sampai waladdhollin. Memahami makna ini akan mengantarkan pada kondisi interaksi yang harmonis antara Allah dan hambaNya.

Setiap gerakan dan bacaan dalam shalat mengandung esensi dan hikmatut tasyri’ yang akan memberikan pemahaman dan penghayatan yang sangat penting bagi proses menuju fase-fase religiusitas seseorang.

Hikmah tasyri’ yang dimaksud adalah seperti kedisiplinan, kebersihan, kesehatan, sugesti kebaikan, dan kebersamaan. Pengetahuan dan pemahaman secara komprehensip akan memberikan pengertian rasional terhadap shalat dan sumber asasi shalat. Dan pada gilirannya musholli akan menemukan makna dari shalat adalah tiang agama.

Selanjutnya, untuk memasuki pada fase ketiga, adalah dengan pengamalan dan pengamalan dengan tanpa putus asa mengharap. Pada tahap inilah, sebagaimana sering dikemukakan para ustadz sebagai penemuan akan manisnya ibadah shalat. Pada fase ini, shalat adalah kebutuhan hidupnya. Wallahua’lam

Penulis : Muhammad Yasin
Penyunting : hbsungkaryo
Tim Liputan : M.Yasin dan Siti Rokhayah
Diterbitkan oleh Tabloid Alhikmah edisi 44

Minggu, 06 Maret 2011

Menjadi Muslim Kreatif

Masih ingat Dora the Explorer, sosok kartun yang selalu membawa peta di ranselnya agar cepat sampai ke tujuan tanpa harus tersesat. Kira-kira begitu jika memanfaatkan GPS (Global Positioning System), sebuah piranti lunak yang banyak ditemukan di handphone, komputer dan alat lain yang tersambung internet atau signal.

GPS tidak hanya menampilkan peta saja, jika kita berpindah dari satu tempat ke tempat lain informasi kecepatan perpindahan pun akan muncul. Bahkan, ketika kita terjebak macet, GPS memberitahu jalan tercepat atau jalan alternatif. Selain itu, GPS juga memiliki fungsi kompas sebagai penentu arah.

Jutaan orang di dunia kini sudah merasakan manfaatnya. Tapi tahukah Anda siapa orang yang paling berjasa dalam menemukan peta dan kompas yang terintegrasi di dalam GPS?

Orang tersebut adalah Abu Abdullah Muhammad Ibn Muhammad ibn Abdullah Ibn Idris Ash Sharif atau dikenal dengan nama Idris, seorang muslim yang lahir di Ceuta, Spanyol (1100-1166 M). Masyarakat barat menyebutnya sebagai ahli geografi, ahli peta bumi dengan dilengkapi penggunaan kompas, yang sempat memberikan bola dunia dari perak seberat 400 ons untuk raja Roger II dari Sicilia.

Buku Idris yang berjudul Nuzhat al Mushtaq fi ikhtiraq al Afaq (kesenangan untuk orang-orang yang mengadakan perjalanan menembus berbagai iklim) menjadi ensiklopedi berisi peta secara detil dan informasi lengkap Negara Eropa. Buku berikutnya Rawd Unnas wa Nuzhat al Nafs (kenikmatan lelaki dan kesenangan Jiwa) menjadi kompilasi ensiklopedi tentang kaum negro dari Timbuktu di Sudan dan asal sumber sungai Nil di Mesir yang paling akurat.

Karena kecermerlangannya, masyarakat barat menyebutnya ahli Geografi terbesar abad pertengahan. Bahkan Christoper Columbus menggunakan peta asli yang dibuat Idris dalam setiap penjelajahannya.

Apakah hanya sebatas ilmu geografi saja keahlian dari Idris, ternyata ada keahlian lain yang tak kalah menakjubkan, ia ternyata ahli ilmu kedokteran. Kitab Al jamil Sifat Ashtat al Nabatat sebuah buku yang memadukan semua literatur kedokteran ilmuwan Islam ditambah dengan riset yang dilakukannya telah diterjemahkan oleh beberapa bahasa. Diantaranya Spanyol (1793), Jerman (1828), Perancis (1840) dan Italia (1885).

Idris tentu tidak sendiri ada banyak ilmuwan Muslim kreatif lainnya yang berhasil menemukan suatu cara unik untuk kemaslahatan umat manusia. Kita kenal dengan Nizam Al Mulk (w 1067), pelopor universitas modern pertama di dunia yang dikenal dengan Nizamiyyah. Saat ini konsepnya ditiru oleh Universitas Oxford di Inggris.

Begitu juga Ibnu Al Haytsam (w 1039 M), pelopor bidang optik dengan kamus optiknya Al Manazhir. Ia berhasil menemukan hukum pemantulan dan pembiasan cahaya jauh sebelum Snellius. Ia juga penemu alat ukur ketinggian bintang kutub. Ia pernah menerangkan pertambahan ukuran bintang-bintang dekat zenith jauh sebelum Roger Bacon, Leonardo da Vinci, Keppler, dan Newton.

Belum lagi Al Khwarizmi (w 850 M) penemu logaritma dan aljabar, ilmu bumi yang menyatakan bumi itu bulat jauh sebelum Galileo, dengan bukunya Kitab Surah al Ardh. Ibnu Rusydi (w 1198 M) atau Averusy; ahli fisika, ahli bahasa, ahli filsafat Yunani kuno.

Kemudian Ibnu Sina (w 1037) atau Aveciena, dokter, psikolog, penulis kaidah kedokteran modern, penulis buku tentang fungsi organ tubuh, peneliti penyakit TBC, diabetes dan penyakit yang ditimbulkan oleh efek pikiran.

Serta masih banyak lagi ilmuwan muslim lainnya yang berhasil menemukan sesuatu yang berguna bagi manusia 
sekarang ini. Hebatnya lagi, rata-rata para ilmuwan muslim terdahulu tidak hanya memiliki satu atau dua keahlian saja, melainkan beragam.

Di era kontemporer, tak sedikit sebenarnya, cendekiawan muslim yang sudah mendapat pengakuan dunia. Dr. Abdussalam, misalnya. Fisikawan asal Pakistan ini dikenal sebagai pengembang teori big bang dan big chrung. Suatu teori tentang awal mula dan akhir dari alam semesta.

Kemudian Muhammad Yunus. Ekonom asal Bangladesh ini adalah pendiri Grameen Bank (Bank Desa), sebuah lembaga keuangan yang memfokuskan diri membantu kalangan lemah untuk keluar dari jerat kemiskinan. Bank Dunia yang sebelumnya memandang program ini sebelah mata, malah mengadopsi gagasan kredit mikronya. Lebih dari 17 juta orang miskin di seluruh dunia telah terbantu dengan program kredit mikro ini. Atas prestasinya tersebut, Yunus diganjar Nobel Perdamaian tahun 2006 lalu.

Di belahan bumi Eropa, saat situs jejaring sosial semisal Facebook, Twitter, Plurk, Myspace, dan lainnya tengah mewabah di seluruh dunia, Mohamed El-Fatatry dan Pietari Paivenen, entrepreneur asal Finlandia meluncurkan Muxlim Inc. Sebuah situs jejaring sosial, khusus komunitas muslim 2006 lalu. BBC London, bahkan menempatkan muxlim sebagai salah satu situs jejaring sosial dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Sedangkan surat kabar terkemuka di Finlandia, Helsingin Sanomat, pada 2008, memasukkan Muxlim Inc dalam 100 perusahaan tersukses di negara itu. Belum termasuk Majalah teknologi terkemuka di Amerika Serikat (AS) yang menobatkan Muxlim sebagai salah satu best tech start-ups dari Eropa.

Berikutnya, Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden ketiga republik ini. Prestasinya di bidang desain dan konstruksi Pesawat sudah tidak diragukan lagi. Ia terlibat berbagai proyek desain dan konstruksi pesawat terbang, semisal Fokker F 28, Transall C-130, Hansa Jet 320 Air Bus A-300, pesawat transport DO-31, CN-235, dan CN-250.

Selama bekerja di MBB, perusahaan high-tech di Jerman, Habibie menyumbang berbagai hasil penelitian dan sejumlah teori untuk ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang Thermodinamika, Konstruksi dan Aerodinamika. Beberapa rumusan teorinya dikenal dalam dunia pesawat terbang seperti “Habibie Factor“, “Habibie Theorem” dan “Habibie Method“.

Masih di Indonesia. Seorang Onno W. Purbo dikenal luas sebagai penggagas internet murah. Pakar teknologi informasi yang digelari ‘Profesor Internet’ ini berpendapat, kebangkitan suatu bangsa harus ditempuh dengan cara membuka akses informasi seluas-luasnya bagi rakyat, dengan cara menekan biaya komunikasi semurah mungkin, bahkan gratis sama sekali. Mimpi muslim kelahiran Bandung 17 Agustus 1962 ini adalah terciptanya Telkom rakyat, agar rakyat tak lagi harus membayar tagihan telepon, lantaran bisa membangun sistem telekomunikasi mandiri.

Salah satu karyanya yang fenomenal adalah RT RW Net atau Internet RT RW. Selain dapat mengakses internet selama 24 jam non stop, RT RWnet pun dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain, semisal intranet atau layanan VoIP ( Voice Over Internet Protocol ), yaitu kemampuan melakukan percakapan telepon antara pengguna komputer melalui jaringan internet sehingga dapat berinterkom sesama rekan tetangga, mungkin se- RT/RW, se-Indonesia, bahkan se-dunia.

Atas kepakaran dan konsistensinya untuk memudahkan penggunaan teknologi informasi, utamanya bagi rakyat kebanyakan, sederet penghargaan berhasil ia raih, antara lain: ASEAN Outstanding Engineering Achievement Award dari ASEAN Federation of Engineering Organization (1997), Golden Award for Indonesian Telematika Figure dari Kamar Dagang Indonesia (2000), dan berbagai penghargaan lainnya. Onno bahkan tercatat dalam buku ‘American Men and Women of Science’ (1992).

Apa itu Kreativitas?
Secara umum, kreativitas kerap didefinisikan sebagai daya cipta dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Umumnya, kreativitas akan memunculkan inovasi, yaitu kemampuan untuk memperbaharui hal-hal yang telah ada. Bila kreativitas itu daya cipta/ kemampuan, maka inovasi merupakan hasil atau produk, buah kreativitas.

Dalam makalahnya “Penelitian, Kebenaran dan Kreativitas dalam Paradigma Islam”, Dr. Ing Fahmi Amhar, Peneliti Utama, Bakosurtanal menuliskan, ketika nilai kebenaran dijadikan sandaran untuk memahami alam semesta, kehidupan dan manusia, kreatifitas diperlukan untuk menjawab tantangan permasalahan yang dihadapi di dunia ini. Kreatifitaslah yang menjadikan suatu bangsa unggul dalam ilmu dan teknologi, dan bukan nilai kebenaran atau kebijaksanaan yang mereka kumpulkan.

Fahmi membagi kreativitas dalam suatu matriks 3 x 3. Pada sumbu datar adalah jenis kreatifitas dari segi kematangan untuk digunakan, yaitu observatif – analitif - kreatif. Sedang pada sumbu tegak adalah tingkat kesulitan mendapatkannya, yaitu aplikatif – modifikatif – inovatif.

Riset observatif-aplikatif artinya pengamatan mencari data dengan menggunakan teknik yang telah lazim diketahui, hanya diterapkan pada medan yang baru. Jarang kita kembangkan metode observasi yang baru untuk menangkap fenomena yang sebelumnya sulit didekati.

Riset analitif-aplikatif artinya analisis antara berbagai data dengan menggunakan pisau analisis yang telah ada. Kembali di sini, jarang ditemukan pengembangan baru, sekalipun hanya modifikasi. Riset jenis inilah yang paling populer, sehingga di berbagai perguruan tinggi, seakan-akan tak mungkin ada riset tanpa statistik dan data real. Padahal untuk riset jenis kreatif, kehadiran statistik atau data real tidak terlalu mutlak, karena yang lebih penting adalah terciptanya suatu alat atau software yang bisa digunakan.

Namun, riset kreatif di negeri muslim umumnya juga hanya aplikatif, sekedar menggunakan (try-out) produk yang sudah dibuat orang dari negara maju.

Alangkah jarang kita dapatkan riset observatif atau analitif yang inovatif, yang bila memiliki dampak yang besar bagi kemanusiaan, pantas dihadiahi Nobel atau yang setara dengan itu. Demikian juga riset kreatif, yang sekalipun sifatnya modifikatif, tapi sering pantas dilindungi paten – agar tidak dibajak oleh kapitalis bermodal raksasa, yang melihat penemuan itu memiliki nilai komersial yang sangat tinggi.

Paradigma kreatifitas ini yang harus dikembangkan di masyarakat muslim sehingga mereka tidak perlu hanya bersifat defensif menghadapi serbuan teknologi Barat, yang kadang disisipi pemikiran dan ideologi Barat, namun sebaliknya bisa proaktif mengekspor teknologi, pemikiran bahkan ideologi Islam ke Barat, sehingga Islam benar-benar menjadi rahmat seluruh alam.

Senada dengan Fahmi, Guru Besar Universitas Islam Bandung, Profesor Maman Abdurrahman mengatakan bahwa substansi kreativitas adalah orientasi untuk sebuah kemaslahatan, baik untuk diri maupun lingkungan. Artinya, kreativitas itu bisa muncul secara personal untuk kebutuhan diri sendiri, bisa juga untuk kemaslahatan umat. Tapi tidak dapat dipungkiri, bahwa kreativitas yang personal pun bisa jadi bermanfaat sosial bagi banyak orang.

Elemen Kepribadian Muslim
Sahabat Rasulullah, Anas bin Malik meriwayatkan, suatu hari ada pengemis dari Anshar datang meminta-minta kepada Rasulullah. Lalu beliau SAW bertanya, “Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?” Pengemis itu menjawab, “Tentu, saya mempunyai pakaian untuk sehari-hari dan sebuah cangkir.”

Rasul berkata, “Ambil dan serahkan kepadaku!” Lalu pengemis itu menyerahkannya, kemudian Rasul menawarkan kepada para sahabat, “Siapakah di antara kalian yang ingin membeli?” Seorang sahabat menyahut, “Saya beli dengan satu dirham.” Rasul menawarkan kembali,” adakah yang ingin membayar lebih?” Ada seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham.

Rasul meminta pengemis itu membeli makanan dengan uang tersebut untuk keluarganya, dan selebihnya, beliau memerintahkan untuk membeli kapak. Rasul berkata, “Carilah kayu sebanyak mungkin dan juallah. Selama dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu.” Sambil melepas kepergiannya, Rasulullah memberinya uang untuk ongkos.

Setelah dua minggu, pengemis itu datang lagi menghadap Rasul sambil membawa uang sepuluh dirham hasil dari penjualan kayu. Lalu Rasul menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya, seraya bersabda, “Hal ini lebih baik bagimu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat seseorang tidak bisa berusaha.” (H.R. Abu Daud).

Saat Madinah diancam akan diserang oleh pasukan Quraisy yang didukung 10 ribu personil militer dari suku-suku lainnya, sahabat Rasulullah, Salman Alfarisi mengusulkan untuk membuat parit-parit di seputar kota. Hal ini mengingat jumlah personil kaum muslimin yang jauh lebih sedikit ketimbang pasukan musuh.

Meski ide Salman terdengar asing kala itu, atas pertimbangan matang Rasulullah, saran tersebut diterima. Akhirnya, dengan penerapan strategi membuat parit (Khandaq), kaum muslimin berhasil memenangkan peperangan.

Begitu indahnya Rasulullah dalam mendidik para sahabatnya untuk berkarya, mengatasi beragam problematika hidup. Rasulullah sadar betul bahwa setiap orang memiliki potensi kreatif. Namun terkadang, dibutuhkan stimulan untuk membangkitkan potensi tersebut.

Agar kemudian kreativitas seorang muslim tidak keluar dari rel Din al Islam, tentu diperlukan semacam interkoneksi antar elemen dalam kepribadian seorang muslim. Hal ini dipandang penting, karena Islam bukan sekedar ajaran yang diyakini dan dipahami, lantas terhenti tidak sampai ke tataran aplikasi.

Menjadi muslim kreatif, misalnya. Tentu tak lepas dari aspek-aspek kepribadian seorang muslim lainnya, mulai aspek ruhiyah, fikriyah, hingga amaliyahnya. Ruhiyah yang baik logisnya akan melahirkan akidah yang lurus dan mantap, tak tergoyahkan. Fikriyah yang cemerlang tentu bermula dari wawasan keislaman yang matang, dan pola pikir islami yang berawal dari satu sumber, yakni kebenaran dari Allah SWT. Sehingga membuahkan kreativitas yang unggul, dan dirasakan manfaatnya oleh umat. Amaliyah yang terjaga akan memunculkan konsistensi lisan dan perbuatan pada pribadi-pribadi muslim.

Mudah-mudahan, setiap kita segera tersadar ihwal urgensi menjadi muslim kreatif. Jika demikian, bersegeralah memulai langkah untuk menjalani tahapan prosesnya secara proporsional. Niscaya tantangan zaman yang tampak demikian kompleks, bisa kita lalui dengan elegan. Insya Allah.

Penulis : Muhammad Yasin
Peliput : Siti Rokayah
Diterbitkan oleh Tabloid Alhikmah edisi 43

Jumat, 18 Februari 2011

Bismillah, Awal Langkah Menuju Berkah

Kecuali surat At-Taubah, 113 Surat lain dalam wahyu suci Alquran, yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, seluruhnya diawali dengan bismillah.

“Bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan.”(QS 96; 1). Demikian wahyu pertama yang diterima oleh Muhammad bin Abdullah di dalam gua Hira, 15 abad silam. Wahyu ini sekaligus mentahbiskan Muhammad menjadi Rasulullah, utusan Allah terakhir yang menyeru manusia di muka bumi untuk mengesakan Allah.

Merujuk kepada sejarah, lafadz bismillah ternyata tidak hanya diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw saja, nabi-nabi sebelumnya mengamalkan bacaan ini dalam segala aktifitasnya. Nabi Sulaiman a.s. misalnya memakai kalimat bismillah ketika mengawali suratnya kepada Ratu Balqis di kerajaan Saba untuk tidak menyembah matahari “Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (an-Namal : 30)

Catatan sejarah lainnya, di zaman Nabi Nuh as, saat banjir hebat terjadi, nabi Nuh memerintahkan para pengikutnya untuk menaiki perahu sambil berkata "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” (Hud : 41)

Tidak hanya para Nabi dan rasul, umat-umat shaleh terdahulu menggunakan lafadz bismillah dalam setiap aktifitasnya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda,“Pada saat malam terjadinya Isra’ saya mencium bau harum, sayapun bertanya, “Ya Jibril, bau harum apakah ini?”Jibril menjawab, “Ini adalah bau wangi wanita penyisir rambut putri Fir’aun (Masyithah) dan anak-anaknya.” Rasul bertanya, “Bagaimana bisa?” Jibril berkata, “Ketika dia menyisir rambut putri Fir’aun, tiba-tiba sisirnya terjatuh. Dia mengambilnya dengan membaca ”Bismillah.”

Saat menyembelih hewan untuk dikonsumsi, segala jenis hewan yang dihalalkan pun bisa berubah haram, tatkala prosesi penyembelihannya tidak diawali dengan Bismillah. Salah satu kriteria halal-haramnya daging hewan yang kita konsumsi adalah saat prosesi penyembelihan. “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah…”. (QS Albaqarah : 173).

Makna dibalik Lafadz Bismillah…?
Ketua Jurusan Tafsir Hadist Universitas Islam Negri Bandung (UIN) Sunan Gunung Djat, Dr.Engkos Kosasih, Lc mengungkapkan, bahwa kandungan bismillah terdiri dari kata bi yang artinya dengan, ismi artinya Allah, Arrahman artinya Yang Maha Pengasih dan Arrahim Yang Maha Penyayang.

Hal ini, menurutnya, menggambarkan apapun yang kita kerjakan dan kita perbuat selama pekerjaan itu baik maka sudah sepantasnya dimulai dengan bismillah. Pengucapan bismillah, tambah Engkos Kosasih, menggambarkan apa yang kita lalukan harus memiliki keterkaitan dengan Allah Azzawajalla.

“Ucapan bismillah Dengan nama Allah, bisa menjaga seseorang dari berbuat sesuatu yang mungkin pada awalnya baik, namun pada perjalanannya terjerumus pada keburukan. Bismillah bisa menjaga seseorang baik dari awal, ketika proses dan baik ketika akhirnya,” paparnya.

Dalam kitab tafsir Ma’riful Qur’an, Mufti Shafi Usmani mengungkapkan kata bismillah terdiri dari 3 suku kata ba, ism dan Allah. Kata ba memiliki 3 konotasi dalam bahasa Arab, pertama mengekspresikan kedekatan antara dua benda yang satu dengan lainnya hampir tidak memiliki jarak, Kedua mencari pertolongan dari seseorang atau sesuatu, ketiga Mencari berkah dari seseorang atau sesuatu.

Kata ism secara sederhana diartikan sebagai nama. Sedangkan kata Allah merupakan gabungan dari kata Al dan Ilah. Kata Al mempunya fungsi definitif dalam bahasa Arab yaitu untuk menunjukkan sesuatu yang khusus sedangkan kata Ilah mengandung arti sesuatu yang disembah.

Kata Allah juga mengacu kepada suatu zat atau esensi yang tidak bisa dinisbahkan kepada yang lain melainkan hanya kepada Allah sendiri. Kata Allah juga merupakan bentuk tunggal yang tidak mempunyai bentuk dual atau jamak hal ini untuk menguatkan makna keesaan pada Allah.

Dari analisisnya ini, Mufti Shafi Usmani berpendapat, 3 makna kata bismillah dalam kaitannya dengan kata ba yaitu pertama dengan nama Allah SWT, kedua dengan pertolongan nama Allah SWT, ketiga dengan berkah nama Allah SWT.

Maka dari sini kita bisa menggambarkan betapa hebatnya kekuatan dari ucapan bismillah ketika memulai segala aktivitas. Dengan mengucapkan bismillah kita berharap bahwa Allah SWT akan bersama sama dengan kita. Selain itu Allah SWT akan menolong dan memberikan keberkahan dalam proses pekerjaan yang kita lakukan.

Begitu pula M. Quraish Shihab. Dalam bukunya ‘Lentera Alquran’, Quraish Shihab, memulai bab pembahasan dengan artikel berjudul ‘Mulailah Segala Aktivitas kita dengan Mengucapkan Basmalah.’ Dengan mengucapkan bismillah, menurutnya, bukan sekedar mengharapkan berkah, tetapi juga menghayati maknanya, sehingga dapat melahirkan karya yang positif.

Kata bi yang diterjemahkan “dengan”, oleh para ulama dikaitkan dengan kata “memulai”. Sehingga pengucap basmalah pada hakikatnya berkata: “Dengan (atau demi) Allah saya memulai (pekerjaan ini).” Apabila Anda menjadikan pekerjaan kita “atas nama” dan “demi” Allah, maka pekerjaan tersebut pasti tidak akan mengakibatkan kerugian pihak lain. Karena ketika itu, kita telah membentengi diri dan pekerjaan kita dari godaan nafsu dan ambisi pribadi.

Masih menurut Quraish Shihab, kata bi juga dikaitkan dengan “kekuasaan dan pertolongan”, sehingga si pengucap menyadari bahwa pekerjaan yang dilakukannya terlaksana atas kodrat (kekuasaan) Allah. Ia memohon bantuan-Nya agar pekerjaannya dapat terselesaikan dengan baik dan sempurna. Dengan permohonan itu, di dalam jiwa si pengucap tertanam rasa kelemahan di hadapan Allah SWT. Namun, pada saat yang sama, tertanam pula kekuatan , rasa percaya diri, dan optimism karena ia merasa memperoleh bantuan dan kekuatan dari Allah, sumber segala kekuatan. Apabila suatu pekerjaan (aktivitas_red) dilakukan atas bantuan Allah, maka pasti ia sempurna, indah, baik dan benar karena sifat-sifat Allah “berbekas” pada pekerjaan tersebut.

Senada dengan Quraish Shihab, Ketua Umum Yayasan Muntada Ahlil Quran, H. Taufik Hamim Effendi, Lc., MA, kepada Alhikmah mengatakan, dengan basmalah pada hakikatnya kita telah berikrar bahwa kehendak Allah SWT di atas segalanya. Maka dengan kehendak-Nya ini, segala perkerjaan kita akan sempurna. Walaupun tetap, kita berkewajiban untuk senantiasa berusaha, berdoa dan bertawakkal.

Selain itu, Basmalah juga memiliki keutamaan lain, yakni sebagai pembuka banyak ibadah, seperti mandi wajib, berwudhu, membaca Al-Quran dan tentunya juga perkerjaan-pekerjaan mubah, seperti makan dan minum, dan banyak aktivitas kaum muslimin lainnya.

Dalam praktik penyebaran Islam, Rasulullah SAW kerap mengirimkan surat yang berisikan dakwah kepada raja-raja di berbagai negeri untuk beriman kepada Allah SWT. Beliau SAW selalu memulai suratnya dengan lafazh basmalah. Demikian pula Nabi Sulaiman pun menuliskan basmalah saat mengirimkan surat ke ratu Bilqis, sebagaimana Allah abadikan kisahnya dalam Al-Quran dalam surat An-Naml. (QS 27; 30).

Bahkan dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda, "Segala aktifitas yang dianggap penting dalam islam dan tidak dimulai dengan basmalah maka tidak akan ada barokahnya."

Berkah Didapat Produktivitas Meningkat
Taufikurrahman, dalam artikelnya “Produktivitas seorang Muslim”, mengatakan, bahwa Islam merupakan agama ‘amali, agama yang mengutamakan nilai-nilai produktivitas secara sempurna dan syumuli, baik produktif dalam arti menghasilkan sebuah karya ataupun produktif dalam arti menghasilkan sebuah peningkatan serta perbaikan diri dan masyarakat. Karenanya, produktivitas di sini didefinisikan sebagai semua hal yang mengandung nilai-nilai kebaikan (khairiyyah), duniawi dan ukhrawi.

Oleh karena itu, ada tiga jenis produktivitas manusia, produktivitas terhadap Allah (produktif dalam ibadah mahdhah, seperti shalat, shaum, dzikir, dan lain-lain), produktivitas terhadap diri sendiri (produktif dalam memenej diri, membangun dan membina kedewasaan, dan lain-lain) dan produktivitas terhadap sesama manusia (produktif dalam berbuat ishlah (perbaikan) masyarakat, baik berupa penularan gagasan dan pikiran (karya-karya ilmiah, ceramah dan dakwah) atau berupa tenaga dan jasa).

Konsep-konsep Islam mampu menembus dimensi basyariyah sekaligus dimensi ilahiyyah. Oleh karena itu, Islam bukanlah agama yang hanya mengurusi masalah-masalah vertikal saja, akan tetapi juga membahas masalah yang sifatnya horizontal. Islam –dengan ke-syumul-annya– menawarkan konsep “manusia produktif” kepada setiap orang sekaligus mengantarkan mereka menembus nilai-nilai ilahiyyah yang sering tertutup oleh tabir kegelapan jahiliyyah.

H. Djoko Sasongko, misalnya. Pengusaha Muslim asal Bandung ini, kepada Alhikmah, memaknai lafadz bismillah dalam memulai aktivitas usahanya, sebagai proses hijrah dari orientasi kehidupan yang awalnya hanya sekedar mengejar materi keduniaan, menjadi berorientasi untuk kebaikan dunia dan akhirat.

Ia meyakini, dengan Bismillah di setiap awal langkah, maka manusia telah melibatkan Allah di setiap sendi kehidupan, dan memiliki kesadaran bahwa segala apapun yang kelak didapat hakikatnya merupakan titipan dari Allah.

“Kalau sudah seperti itu, maka setiap langkah-langkah itu akan membawa kebaikan. Misalnya; memberikan pelayanan terbaik kepada customer dengan berlaku jujur, amanah, tidak mengurangi timbangan dan sebagainya. Namun, yang perlu menjadi catatan sebenarnya bukan ucapannya, tapi lebih ke penghayatan makna yang kita ucapkan. Kalau lisan saja tanpa penghayatan, saya pikir akan menjadi hambar,” papar Djoko.

Dengan pelayanan terbaik, hal tersebut berdampak pada terciptanya pelanggan yang loyal, sehingga produktivitas pun tentu mengalami peningkatan. “Semakin dipercaya oleh Allah dengan materi yang melimpah ruah, maka kita semakin leluasa untuk beramal, dengan berinfak, atau berzakat, misalnya,” ungkap Djoko.

Begitu pula Deny Muttaqien. Pemilik Alifa Moslems Shopping Centre, Bandung ini meyakini, bahwa orang-orang yang menanamkan suatu niat (Bismillah) sejak awal, akan memiliki cadangan energi dan keyakinan, yang membuat seseorang pantang menyerah. “Puncaknya bahwa kebaikan yang kita lakukan akan dibalas Allah di akhirat kelak. Sehingga mampu berpikir progresif dan realistis, bahwa Allah akan memberikan sesuatu dengan segala kebaikan yang terkandung di dalamnya,” ungkap Deny.

Penulis : Muhammad Yasin
Peliput : Erni Ari Susanti/ M. Yasin
Penyunting : hb Sungkaryo
Diterbitkan oleh Tabloid Alhikmah edisi 42