Kumpulan tulisan Muhammad Yasin, Wartawan, Blogger dan pebisnis online

Jumat, 03 Februari 2012

Es Cendol Elizabeth Minuman Khas Kota Bandung

Bagi Anda yang pernah berkunjung ke kota Bandung, tentu tidak asing lagi dengan minuman es cendol Elizabeth. Minuman dingin ini terdiri dari cendol berwarna hijau sedikit tua, irisan nangka, santan kental, serutan es batu serta larutan gula merah yang kental.

Para penjaja es cendol Elizabeth banyak ditemukan di kawasan sepanjang jalan Otto Iskandar Dinata (Otista) dan di beberapa jalan di pusat keramaian kota Bandung. Mereka menggunakan gerobak dengan dominasi warna hijau dengan bertuliskan es cendol elizabeth.

Namun jangan kaget, kalau ternyata sang pemilik asli es cendol elizabeth sendiri, H. Rahman menyangkal bahwa es cendol yang dijajakan oleh para pedagang tersebut bukanlah es cendol elizabeth buatannya. Mereka hanya ikut mendompleng ketenaran es cendol elizabet dengan menuliskan kalimat es cendol Elizabeth di setiap gerobaknya.

“Mereka tidak ngambil cendol dari saya. Dari dulu kan saya tidak mengakui itu. Itu bukan es cendol elizabeth saya, namanya saja es cendol Elizabeth. Tempat saya sendiri saja yang di jalan otista depan toko Elizabeth, kalau bulan ramadhan saya tutup,” ujar H. Rohman saat ditemui di kediamannya di komplek Sadang Asri jalan Inhoftank Bandung.

Lantas dimanakah es cendol elzabeth yang asli. Untuk menikmati Es cendol Elizabeth buatan H. Rohman ini, Anda bisa mendatangi restoran pusatnya di jalan Inhoftank No. 64 Bandung. Lokasi ini tidak begitu jauh dari jalan otista Bandung, yaitu berada pada ujung jalan Otista.

Selain itu, es cendol Elizabeth juga buka di beberapa cabang di kota Bandung seperti di jalan otista, Cihampelas, Merdeka, Buah Batu, Setrasari, Pahlawan, Kopo, Majalaya, serta di luar Bandung berada di Tasikmalaya.

Seperti dituturkan pemiliknya, es cendol elizabeth memiliki beberapa perbedaan dan keunggulan dibanding kebanyakan es cendol lainnya. Perbedaan sekaligus keunggulannya terletak pada kadar gula dan santan yang lebih kental. Kemudian bahan-bahan olahannya masih bersifat natural, dengan kata lain tidak ditambah zat-zat kimia seperti pewarna dan pengawet.

“Cendol Elizabeth terbuat dari sagu. Warnanya yang hijau berasal dari daun suji. Sedang untuk pewangi diambil dari daun pandan. Jadi masih alami sekali. kita tidak menggunakan bahan kimia. Bagi saya kalau tidak ada warna dari bahan alami lebih baik dibiarkan putih saja seperti aslinya warna sagu” tutur bapak yang tidak lulus SD ini.

Bahan-bahan tersebut menurut H. Rahman diperoleh dari pabriknya langsung. Seperti sagu berasal dari Kepulauan Riau dan gulanya berasal dari Cilacap Jawatengah. Sedangkan pandan dan daun suji berasal dari kebunnya sendiri di Ciparay dan Majalaya, Kabupaten Bandung. Adapun kegiatan belanja dilakukan per dua bulan sekali, yaitu gula sebanyak 4 ton sedangkan sagu sebanyak 5 ton.

Meskipun diambil dari bahan-bahan natural yang harganya tentu lebih mahal dibanding dengan zat-zat kimia, namun harga jual Es cendol Elizabeth sangatlah terjangkau. Anda hanya cukup merogoh kocek 2.500 per satu gelas besar es cendol elizabet. Kalau yang lebih besar lagi ada yang khusus dijual perbungkus dengan berat 1,5 Kg. Harganya masih cukup murah yaitu cuma 8000 rupiah.

Karena keunggulan-keuggulan inilah maka tidak salah jika kemudian grup waralaba Jogja dan griya ikut menggandeng Es Cendol Elizabeth untuk mendistribusikan es cendol Elizabeth di setiap cabangnya di seluruh Indonesia.

Berawal Dari Gerobak
Perjalanan bisnis H. Rohman sebagai seorang pengusaha es cendol elizabeth sangat panjang dan berliku. Semenjak ditinggal wafat ayahnya ketika masih menginjak bangku sekolah dasar kelas 2 di Cilacap, H Rohman terpaksa harus putus sekolah dan mencari nafkah sendiri.

Selanjutnya ketika usianya menginjak remaja pada tahun 1972 H. Rohman memberanikan diri pergi ke Bandung mengikuti jejak pamannya menjadi tukang es cendol. Melalui bimbingan pamannya ia berkeliling menjajakan es cendol Elizabeth dengan menggunakan gerobak.

“Saya keliling sejak tahun 1972 sampai tahun 1980, mulai dari Astanaanyar sampai Dago. Lama-kelamaan sampai di jalan Otista es cendol sudah habis sama pelanggan, jadi tidak ke Dago lagi. Akhirnya saya mangkal di Otista,” kata H. Rohman.

Kurang lebih 3 tahun setelah belajar dari pamannya, pada tahun 1975 H. Rohman memutuskan untuk membuka usaha es cendol secara mandiri. Ketika mandiri itulah, H. Rohman mulai berkreasi sendiri hingga ia menemukan resep es cendol Elizabeth yang sekarang ini banyak diburu masyarakat.

Saat itu modal pertamanya terdiri dari satu kompor, satu tabung wadah cendol, satu gerobak, 2 kilo gula, 1 kilo sagu dan 5 butir kelapa. Semuanya bernilai kurang lebih 200 ribu. Dan karena keuletannya, dua bulan kemudian modal tersebut sudah bisa tertutupi.

H. Rohman mengaku selama berjualan es cendol Elizabeth, gerobaknya kerap diamankan oleh satuan polisi pamong praja (Satpol PP). tercatat hampir tiga kali gerobaknya diamankan. Kadang-kadang Gerobak dan pemiliknya juga diamankan dan diturunkan jauh dari perkotaan sampai jaraknya mencapi puluhan kilo.

Sejarah Nama Elizabeth
Inilah barangkali yang menjadi pertanyaan banyak orang, dari mana asal muasal nama elizabeth. Nama elizabeth bermula saat H. Rohman mangkal dijalan otista di depan sebuah rumah milik keturunan Cina bernama Eli.

Ibu Eli adalah seorang penjual tas berlabelkan Elizabeth. Setiap Ibu Eli pulang ke rumahnya menggunakan becak, H. Rohmanlah yang selalu membantu membawakan barang-barangnya hingga ke dalam rumah.

Sekitar tahun 1978 Ibu Eli berinisiatif menjual tas Elizabeth di depan rumahnya menggunakan meja berdampingan dengan roda es cendol miliknya H. Rohman. Saat itu ibu Eli menyuruh H Rahman menjajakan dagangan tasnya bersamaan dengan menjajakan es cendol.

Suatu hari ada yang membeli tas namun memaksa ingin menikmati es cendol secara gratis. “Saya bilang ga boleh. Kalau cendolnya punya saya, tasnya punya ibu. Dia tetap maksa dan akhirnya saya nurut setelah saya melapor ke Ibu Eli dan beliau bersedia membayar cendolnya” kata H. Rahman.

Ternyata kejadian-kejadian tersebut terus terulang, bahkan meluas dari mulut ke mulut bahwa dengan membeli tas Elizabeth gratis minum es cendol Elizabeth. Akhirnya Ibu Eli menyuruh H. Rahman membuat kartu nama es cendol dengan nama es cendol Elizabeth. Maka seiring kesuksesan Elizabeth, disanalah mulai terkenal nama es cendol Elizabeth.

Selanjutnya karena permintaan dari konsumen terus meningkat maka pada tahun 1996 didirikanlah restoran yang khusus menjual dan melayani pembelian Es Cendol Elizabeth di jl. Inhoftank no.64 Bandung. Produk yang disuguhkan pun kemudian bertambah seiring banyaknya permintaan dari para pelanggan, diantaranya Es Goyobod, batagor, baso tahu dan mie baso.

Saat ini, Es Cendol Elizabeth jika sedang hari libur atau setiap hari di bulan ramadhan untuk restoran pusatnya di jalan Inhoftank mampu meraup omset 10 juta hingga 15 juta. Meskipun omsetnya tergolong lumayan, bukan berarti H. Rohman bisa tinggal diam. Ia mengaku akan terus berupaya melayani para pelanggan dengan semaksimal mungkin karena seiring munculnya para pesaing.

4 komentar:

Posting Komentar