Kumpulan tulisan Muhammad Yasin, Wartawan, Blogger dan pebisnis online

Jumat, 15 Maret 2013

Rabbani Profesor kerudung Indonesia

Kerudung Rabbani

Kerudung instan memang sudah tidak aneh lagi di negeri yang mayorits muslim ini. Rabbani Asysa adalah pionirnya. Tentu saja namanya sudah sangat terkenal sebagai penemu kerudung instan paling kreatif sejak tahun 2000-an.

Untuk memakai kerudung Rabbani ini seorang muslimah hanya membutuhkan waktu kurang lebih 6 detik saja. Karena memang bahan kerudung yang digunakan Rabbani terbuat dari bahan kaos dan tim kreatif Rabbani selalu menyesuaikan kerudung tersebut dengan muka muslimah Indonesia pada umumnya.

Meskipun menggunakan bahan kaos, bukan berarti kerudung instan rabbani hanya bisa dikenakan di acara santai dan rumahan saja. Beberapa tipe kerudung seperti 'picanto, 'carens', dan 'innova' membuat tampilan muslimah menjadi lebih resmi. Tentunya dengan menambahkan beberapa aksesoris lainnya berupa kalung, cincin kerudung, korsase, bros, atau syal.

Kreasi-kreasi yang dihasilkan Rabbani telah menyedot perhatian banyak kalangan, mulai dari masyarakat biasa sampai para selebritas penikmat busana. Hingga bulan Juli 2010 ini saja Rabbani telah membuka outlet sebanyak 120 outlet.

Outlet-outlet besar ini tersebar di seluruh Indonesia dari pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Dan beberapa produknya sudah dikirim ke luar negeri untuk sub dealer Rabbani di sana seperti Malaysia, Hongkong, Mesir, Belanda dan Australia.

Nama Rabbani sendiri sebetulnya bukanlah merek dagang busana Muslim. Mulanya pada tahun 1991, Amry mengenakan nama Rabbani untuk bisnis perdananya sebagai penjual buku-buku muslim serta alat tulis kantor.

Keberhasilannya menjalani profesi sebagai penjual buku ini berawal dari jualan di pinggir kampus Universitas Padjajaran (Unpad). Saat usahanya mulai menaik ia membuat sebagian rumah kontrakannya di Jalan Haur Mekar menjadi toko buku.

Sedikit demi sedikit keuntungan yang ditorehnya ia kumpulkan hingga bisa membuka toko Pustaka Rabbani masih di sekitar Unpad di Jalan Dipati Ukur. Saking sibuknya dalam menjalankan usaha, pria kelahiran Aceh Utara, 20 Februari 1967 ini akhirnya meninggalkan kuliahnya di Sastra Arab Unpad.

Namun pada tahun keempat, Amry membanting stir usaha bukunya kepada usaha kerudung. Ia melihat saat itu situasi masyarakat muslim Indonesia, khususnya di instansi formal pemerintahan seperti pendidikan dan perkantoran, dilarang mengenakan kerudung. Sedang bagi Amry dengan adanya pelarangan justru malah bisa menumbuhkan keinginan untuk mengenakan kerudung.

Maka dengan modal nekad, Ia menjual toko buku miliknya dan rela melepas 30 karyawan yang tidak siap ikut berputar haluan. Uang 15 juta hasil penjualan toko lantas ia jadikan modal untuk menggarap usaha busana Muslim. Selain dari hasil penjualan toko, Amry juga mendapat tambahan modal dari menggadaikan lima gram emas mahar yang diberikannya ketika meminang Nia pada tahun 1991.

Sedang ide kerudung instan sendiri muncul saat ia dan istrinya berkunjung ke Tanah Suci tahun 2003. Di sana, sang istri melihat ada perempuan muslim Cina yang mengenakan kerudung kreasi. Dari sanalah ide-ide kerudung baru bermunculan.

Strategi menghadapi Persaingan Pasar 

Setiap tahun usaha kerudung Amry dan istrinya di bawah naungan CV Rabbani Asysa terus memperlihatkan kemajuannya yang sangat siginifikan. Akibatnya beberapa produk serupa dengan meniru konsep kerudung instan dari produsen kerudung lainnya mulai bermunculan di sana-sini yang jumlahnya tidak terhitung lagi. 

Untuk mensiasati persaingan ini, seperti yang dituturkan Ari Noviani, Marketing Komunikasi, Rabbani menargetkan pertiga bulan sekali mengeluarkan produk baru dari inovasi tim kreatif Rabbani. Setiap satu model yang baru tersebut diproduksi sebanyak 35 ribu kerudung untuk 120 outlet yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Tiga bulan sekali kita mengeluar produk baru. Dari design awal sampai saat ini sudah mencapai ribuan model. Setiap produk yang habis terjual maka kita tidak membuat lagi model yang serupa, tapi kita berkreasi mencari model yang baru. Itulah alasan kita membuat tagline Rabbani sebagai Profesor kerudung Indonesia” kata Noviani.

Kerudung-kerudung Rabbani memiliki harga yang bervariasai, mulai dari harga 14.500 sampai dengan 80.000. Selain kerudung, Rabbani pun mengeluarkan beberapa produk lainnya seperti busana muslimah. Harga busana muslimah berkisar antara 89.900 rupiah sampai 400.000 rupiah per potongnya. Serta ada beberapa produk lainnya lagi seperti mukena, busana anak dan baju muslim.

Sampai saat ini jumlah karyawan yang diperbantukan di Rabbani mencapai 2500 orang. Jumlah ini tersebar baik di kantor pusat di jalan Dipatiukur no 44 Bandung maupun di beberapa tempat design dan produksinya seperti di Leuwisari, Karasak, Soekarno Hatta, Mochammad Toha, Kopo dan beberapa tempat lainnya di Bandung.

Salah satu momen yang paling menjadi perhatian serius Rabbani tak lain adalah di bulan ramadhan. Ramadhan sebagai bulan yang istimewa bagi umat Islam dalam meningkatkan ibadah, menjadi momen bagi pebisnis busana muslim untuk gencar mempromosikan produknya. Mengingat di akhir ramadhan umat Islam Indonesia masih mengikuti kebiasaan mengenakan pakaian baru di hari raya.

Ari Noviani mengakui pada hari-hari biasa di luar bulan ramadhan para pengunjung yang datang ke outlet pusat Rabbani di jalan Dipatiukur no 44 Bandung berkisar antara 300 sampai 500 orang. Ketika memasuki bulan ramadahan apalagi beberapa hari menjelang hari raya idul fitri jumlahnya bisa melonjak menjadi 700 sampai lebih dari 1000 orang perharinya. Hal serupa pun dialami oleh beberapa outlet di kota-kota besar dengan jumlah yang beragam.

Maka untuk Ramadahan kali ini, Rabbani masih gencar melakukan promosi di media televisi, radio dan media cetak. Bahkan untuk media televisi, Rabbani melakukan promosi produk melalui berbagai tayangan sinetron dan program televisi lainnya dengan cara memasok busana yang dikenakan oleh para artis.

Diantaranya Cinta Fitri Seson Ramadhan, Fitriyah, Islam KTP, Charlie & Trio Angel di SCTV; Ada Kontrakan Dalam Gang, Alif Ba Ta serta Mat Jiung di TPI; Nurjanah dan Nikah Siri di INDOSIAR; Assalamualaikum Ustadz di RCTI; Bioskop Indonesia trans TV (Trans TV); Istri-istri Jagoan di Global TV; serta Wara Wiri Ramadhan di Trans 7.

Sementara ikon kerudung dan busana muslimah sendiri, Rabbani masih menggaet artis ternama Astri Ivo. Namun setahun belakangan ini menurut Noviani, Rabbani melakukan road show ke sembilan kota besar di Indonesia untuk mengaudisi muslimah yang akan dijadikan pendamping Astri Ivo.

“Kita saat ini sedang memilih model Rabbani MISS FIRE (Fresh Icon Rabbani Educated) dengan cara melakukan audisi di sembilan kota besar di Indonesia. Muslimah yang terpilih nantinya akan menjadi pendamping Astri Ivo sebagi ikon Rabbani” kata Noviana.

Selain gencar melakukan promosi di berbagai media dan kegiatan, Rabbani masih menjaga para pengunjung setianya dengan menggunakan sistem keanggotaan. Setiap pengunjung berhak menjadi anggota (member) setelah melakukan pendaftaran dengan biaya 50 ribu.

Rabbani memberikan kelebihan bagi para anggotanya yang saat ini sudah mencapai lebih dari 30 ribu anggota ini, berupa diskon 10 sampai 15 % setiap kali berbelanja produk Rabbani di Outlet yang telah ditentukan.

Selain mendapatkan diskon, keuntungan lain yang didapat dari keanggotaan adalah hadiah dari total poin yang dikumpulkan. setiap member yang berbelanja produk Rabbani dengan nilai 100 ribu atau dengan mengajak dua orang menjadi member akan mendapatkan satu poin dan berlaku kelipatannya.

Di akhir tahun, pon-poin tersebut akan dijumlahkan dan untuk tahun 2010 ini seratus anggota yang memiliki jumlah poin terbanyak akan mendapatkan hadiah berupa umrah.

Dan yang tak kalah hebatnya dari eksistensi Rabbani diantara pesaingnya adalah sistem waralaba yang diterapkan Rabbani yang dinamai dengan wala rabba. Wala artinya loyalitas, sedangkan rabba berarti Tuhan.

Dengan membayar senilai 500 juta seorang investor, sudah bisa berjualan produk-produk Rabbani dalam jumlah besar dengan system bagi hasil. Investor yang memilih waralaba Rabbani ini akan mendapatkan interior dan display yang disesuaikan dengan standarisasi rabbani. Sampai Juli 2010 ini Rabbani memiliki 60 waralaba.

Selain waralaba terdapat pula Sub dealer. Dengan investasi awal 5 juta dan pendaftaran 250 ribu seorang investor akan mendapat diskon 30%. Melalui perwakilan-perwakilan inilah Rabbani terus menancapkan eksistensinya di tengah persaingan busana muslim yang sangat ketat. Tentunya dengan beragam strategi promosi yang bisa mendatangkan loyalitas pelanggan. Dan bulan Ramadhan adalah momennya.


Penulis : Muhammad Yasin
Diterbitkan oleh Majalah Pengusaha Muslim
Edisi 9. Volume 1. September 2010  Rubrik Laporan Utama Hal 20-23 Tema Bisnis Menjanjikan di Saar Lebaran

Imtech Menyasar Kaum Pelajar

Imtech Inhoftank (Samping Al Imarat)

Saat ini teknologi komputer sudah sangat berkembang pesat seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat khususnya kaum pelajar di negara berkembang seperti Indonesia ini. Baik produsen atau distributor berlomba-lomba menyediakan berbagai tipe computer beserta aksesorisnya.

Yang menarik disini kaum pelajar sampai saat ini masih menjadi ceruk pasar potensial dalam memasarkan computer beserta aksesorisnya. Mengingat teknologi ini menjadi kebutuhan mereka selama proses pembelajaran. Hal ini menjadi alasan mengapa distributor computer bernama Imtech selalu memilih lokasi tokonya tidak jauh dari lingkungan kampus.

Sejak berdirinya tahun 2007, Imtech saat ini telah memiliki 4 cabang di Jawabarat dan satu cabang di Riau. Diantaranya Imtech Cabang Tasikmalaya di jalan Siliwangi No 67A dekat Universitas Siliwangi dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Tasikmalaya.

Imtech Cabang Jatinangor di Desa Cikeruh No 206B Jatinangor Kabupaten Sumedang dekat Universitas Padjadajaran Bandung (Unpad) Jatinangor, Institut Ilmu Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin), Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dan Universitas Winaya Mukti (Unwim).

Imtech Cabang Balubur di Pusat Perbelanjaan Balubur jalan Tamansari Kota Bandung dekat Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Pasundan (Unpas), Universitas Islam Bandung (Unisba), Universitas Padjadajaran Bandung (Unpad) Dipatiukur dan kampus lainnya.

Imtech Cabang Inhoftank di jalan Inhoftank No 80 Tegalega Bandung dekat Kampus Studi Bahasa Arab Al Imarat dan SMK Prakarya Internasional. Serta Imtech Dumai jalan Prof. M. Yamin No 144 Dumai Riau.

“Kaum muda menjadi focus kita dalam memasarkan computer. Selain karena kebutuhan kuliah, juga karena mereka relatif lebih konsumtif dibanding yang tua. Jadi pertama kali Imtech buka cabang kita ngambil lokasi yang dekat kampus kecuali yang di Dumai Riau karena memang disana tidak ada kampus” kata Iman Haris Pengelola Imtech saat ditemui di cabang Imtech Inhoftank.

Dalam hal Penyediaan barang, Imtech fokus mengarah ke penyediaan Personal Computer (PC) dan laptop bekas. Menurut Iman daya beli masyarakat sebetulnya tidak terlalu tinggi dan ia mengakui di Imtech setahun belakangan ini penjualan komputer bekas meningkat dibanding komputer baru. Perbedaanya berkisar 70% penjualan bekas dan 30% penjualan baru.

Komputer bekas ini merupakan computer rakitan dengan selisih hardware 50% bekas dan 50% baru. “Di pasar kita yang bekas-bekas ini lebih potensial. Tapi yang baru juga punya pasar sendiri. Barang yang baru cuma ngisi saja sebagai persiapan kalau ada permintaan,” tutur lelaki kelahiran 23 Maret 1979.

Selain menyediakan computer dan laptop baik baru atau bekas, Imtech juga menyediakan aksesoris computer serta jasa servis. Iman menuturkan dari semua cabang tersebut Imtech meraup omset hingga 300 juta setiap bulannya.

Konsep Jual Murah 

Cara yang dilakukan Imtech dalam menggenjot pemasaran komputernya di kalangan mahasiswa adalah dengan memainkan harga serendah mungkin. Bahkan Imtech sendiri memiliki slogan “Bandingkan harga sebelum beli!” yang tersebar di brosur dan iklan di internet.

“Kita tekan harga computer dan laptop bekas semurah mungkin. Karena kita mengejar perputaran uang yang lebih cepat. Disamping para pelajar memang sifatnya seperti itu” kata Iman.

Namun persolaannya computer dan laptop itu tidak setiap hari terjual, sedangkan karyawan dan kebutuhan pokok sehari-hari selalu ada pengeluaran. Untuk menutupi itu Imtech menjual aksesoris dengan harga yang sangat murah juga.

“Kalau yang jualan utama PC dan Notebook kita relative bisa ngambil untung banyak, karena sumber pengambilan barang yang relative murah jauh dibanding Jakarta sekalipun. Nah untuk aksesoris jujur saja kita ngambil untung sedikit” kata lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung Jurusan Bahasa Inggris ini .

Untuk meyakinkan barang-barang bekas yang dijualnya, Imtech memberikan jaminan garansi melebihi kebanyakan toko lainnya, yaitu bisa sampai sebulan penuh. Selain itu ia juga memberikan pelayanan antar barang dengan biaya gratis. “Kita ngasih garansi yang second 30 hari. Garansi kita jauh lebih lama dari toko-toko yang lain. Kalau yang lain seminggu dan dua minggu, belum lagi kita antar gratis” tutur Iman.

Strategi Pemasaran Imech 

Strategi pemasaran yang ditempuh Imtech tergolong sederhana, karena sasaran penjualannya berada di lingkungan sekitarnya maka Imtech memfokuskan promosi ke penyebaran brosur. Untuk wilayah Inhoftank misalnya sebulan Imtech bisa menghabiskan 5000 lembar brosur yang disebar di wilayah strategis dekat lokasi dan di lapangan Tegalega.

Sisanya promosi Imtech menyasar dunia maya semacam facebook, situs gratisan blog di alamat www.imantechnology.blogspot.com dan www.lebihmurahlebihbaik.blogspot.com serta iklan di beberapa situs penyedia iklan gratis.

Iman mengaku tak hanya mahasiswa dan pelajar yang menjadi focus pemasaran produknya. Karena resiko penjualan murah tadi adalah meraup keuntungan sedikit. Karena itu Imtech mengejar pasar borongan seperti warnet, tukang servis serta toko-toko kecil. Diantara pasar borongan tersebut yang paling banyak disasar adalah warnet .

“Kebutuhan warnet itu banyak mulai dari computer sampai aksesoris, yang paling utama headset dan lain-lain. Dan itu bisa berlanjut jika kita terus menjaganya seperti kalau ada kerusakan dan lain-lain kita benahi. Pokoknya sekali ke kita maka harus diupayakan terus ke kita ke depannya. Kalau tidak dijaga seperti itu kita tergilas oleh toko lainnya dengan persaingan yang ketat ini khususnya di Bandung” pungkasnya.


Penulis : Muhammad Yasin
Diterbitkan oleh Majalah Pengusaha Muslim
Edisi 12. Volume1. Desember 2010  Rubrik Topik Utama  Hal 20-21 Tema Omzet Miliaran di Bisnis Komputer