Kumpulan tulisan Muhammad Yasin, Wartawan, Blogger dan pebisnis online

Minggu, 02 Januari 2011

Majlis Taklim Baiturrahman Menghapus Buta Huruf Alquran


Pagi itu Bandung terlihat cerah. Satu persatu ibu-ibu berbusana muslimah dengan gamis hijau dan kerudung senada agak muda, tampak memasuki mesjid Baiturrahaman Jl. Saturnus Ujung, RW. 14, Kel. Manjahlega, Kec. Rancasari, Margahayu Raya, Bandung.

Suasana seperti ini rutin berlangsung setiap Kamis pagi, pukul 09.00 WIB. Para Ibu itu berkumpul dalam rangka menunaikan kewajiban menggali ilmu di Majelis Taklim yang dinamai sama dengan nama Mesjidnya, Baiturrahman.

Majelis Taklim Baiturrahman sebetulnya sudah cukup lama berdiri. Awal tahun 1985, Andi Swandi, seorang kepala RW di Margahayu yang peduli terhadap ajaran Islam, berniat mendirikan Mesjid Baiturrahman. “Harus ada tempat peribadatan umat Islam” kenang H. Dadang WP ketua DKM Baiturrahman, mengutip kata-kata Andi Swandi.

Keinginan ini tak lama bersambut. Mesjid Baiturrahman tegak berdiri, buah pengumpulan dana dari masyarakat sekitar yang peduli terhadap kelangsungan dakwah Islam. Tidak berhenti sampai disitu, perjuangan untuk memakmurkan mesjid pun terus berlanjut.  Salah satunya dengan pembentukan Majelis Taklim Baiturrahman, tak lama setelah mesjid Baiturrahman berdiri.

Pada mula Majelis Taklim ini dibentuk, hanya 20 orang yang bergabung, tanpa ada kepengurusan. “itu juga kadang yang hadir tidak semuanya,” ungkap ketua Majelis Taklim Baiturrahman, Andi Riswandi. Namun jumlah jama’ah yang tak seberapa itu tidak lantas menyurutkan semangat untuk terus datang mengahadiri majelis ilmu.

Kondisi ini terus berjalan hingga tujuh tahun. Setelah itu, awal 1992, dibentuklah kepengurusan per tiga tahun sekali, dengan ketua Majlis Taklim pertama dipegang oleh Hj. Sutarsin. Usai kepemimpinan Hj. Suntarsin, Hj. Kusnadi, Nia Supriyadi dan yang terakhir ibu Cicin Kaswandi berturut-turut duduk sebagai ketua di Majelis Taklim ini.

Saat ini, jama’ah Majelis Taklim Baiturrahman sudah mencapai 70 orang. Lokasi terjauh dating dari ujung Manjalega, sekitar 1,5 KM dari Mesjid Baiturrahman. Proses perekrutannya sendiri bermula dari ajakan mulut ke mulut, baik saat arisan PKK atau pada kegiatan lainnya, dimana ibu-ibu berkumpul di acara tersebut.


Para jama’ah Majelis Taklim ini merasa bersyukur dengan adanya perubahan positif dari sisi aktivitas ibadah, setelah masuk mengikuti kegiatan-kegiatannya. “Semenjak saya ikut Majelis Taklim ini, saya Semakin khusyu dalam beribadah, bertetangga lebih diperbaiki, silaturahim makin erat,” ungkap Neni Nuraini, seorang jama’ah yang masuk bergabung di  Majelis ini sejak 1992.

Terkait dengan program, Majelis Taklim ini menitikberatkan pada baca tulis Alquran, dengan target menghapus angka buta huruf Alquran, minimal diantara para jama’ahnya yang rata-rata sudah berusia lanjut.

Selain baca tulis Alquran, Majlis Taklim ini juga berkesempatan belajar tahsin Alquran dari Ustadz Wahyu Syamsuri S.Ag, setiap Senin sore, pun hadits-hadits Nabi dari Ustadzah E. Zakiah S. Ag. setiap Kamis, pukul 09.00 WIB. Dari pelajaran ini diharapkan para anggota bisa memahami Islam lebih dalam, dan mampu menyampaikan ajarannya baik melalui mimbar ataupun saat sekedar menjadi MC pada suatu acara tertentu.
           
Selain aktivitas di internal organisasi, silaturahim eksternal pun aktif diselenggarakan Majelis ini. Salah satunya dengan menghadiri Majelis ilmu yang digelar oleh Gabungan Majelis Taklim (GMT) dibawah koordinasi Badan Kerjasama Waita Islam Provisi Jabar (BKSWI) di RS. Al Islam, Bandung beberapa waku lalu.


Selain itu, Majlis Taklim Baiturrahman juga mengikuti program pelatihan mubalighah yang diselenggarakan oleh HIMI (Himpunan Mubalighah) dan BKMM (Badan Kerjasama Majlis taklim Mesjid-mesjid Margahayu) belum lama ini, dengan harapan ilmu yang telah didapatkan mampu memberikan bekal bagi penyampaian materi-materi dakwah yang mencerahkan.
  
Ketua : Ibu Cicin Kaswandi
Sekretaris : Ibu Hartini Kardi
Bendahara : Hj. Nina Joko


Diterbitkan oleh Tabloid Alhikmah edisi 33

0 komentar:

Poskan Komentar