Kumpulan tulisan Muhammad Yasin, Wartawan, Blogger dan pebisnis online

Minggu, 02 Januari 2011

Ir. Achmad Noe’man Maestro Arsitektur Mesjid Kebanggaan Indonesia

Kalau bapak jadi jendral, maka pahlawan yang berhasil dibunuh PKI itu jadi 8 orang”

Mesjid pada umumnya memiliki ciri khas yang mudah dikenali. Yakni bangunan berkubah dan memiliki tiang-tiang sebagai penyangga. Tetapi di tangan seorang putra Garut, Mesjid dibangun menjadi tak berkubah dan tidak bertiang. Perubahan ini tentu memerlukan keberanian yang hebat. Dan Ir. Achmad Noe’man telah membuktikannya.

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami." "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?"  (Q.S. Al-Baqarah: 170)

Ayat inilah titik tolak dari keberanian Ir. Achmad Noe’man dalam merombak tradisi tua arsitek pembangunan Mesjid di Indonesia dan beberapa Negara lain yang pernah dijajakinya, dengan tidak memakai kubah dan tiang.

Ir. Achmad Noe’man dilahirkan di Garut, Jumat, 10 Oktober 1925. Ayahnya, H. Muhammad Jamhari adalah seorang saudagar sekaligus pendiri Muhammadiyah Garut. Sebagai ulama Muhammadiyah, H. Jamhari dituntut untuk membangun fasilitas pendidikan, mulai dari bangunan sekolah, asrama sampai mesjid. Di saat pembangunan demi pembangunan insfrastruktur pendidikan tadi dimulai, Noe’man kecil selalu berada di samping sang ayah. Salah satunya ketika mendirikan mesjid Muhammadiyah Lio, jalan Pasar Baru, Garut, Jawa Barat.

Pendidikan formil Noe’man dimulai di HIS (Hollandsch Inlandsche School) –setingkat SD– Budi Priyayi Ciledug, Garut. Kemudian berlanjut ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderweijs) –setingkat SMP— di kota yang sama. Namun karena kekuasaan beralih ke tangan Republik, MULO Garut pun ditutup dan anak ke delapan dari 13 saudara ini memutuskan untuk meneruskan pendidikannya ke MULO Jogjakarta. Selesai dari MULO, ia melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah Atas (SMA) Muhammadiyah, Jogjakarta.

Sewaktu Achmad Noe’man di Jogjakarta, sang ayah jatuh sakit. “Jangan diberitahu, biarkan dia menyelesaikan sekolah. No’eman itu kalau bisa dimana saja sekolahnya harus cucud (beres). Setelah cucud jangan menjadi PN (Pegawai Negeri), tapi harus berdiri sendiri,” ujar Noe’man mengenang wasiat mendiang ayahnya yang disampaikan melalui sang ibu, Siti Rukmanah. Tak lama kemudian, H. Jamhari pergi menghadap sang Khalik.

Wajar jika Noe’man kecewa. Ia sangat bersedih kehilangan orang yang dicintainya. “Kenapa saya tidak diberitahu bahwa ayah sakit keras, kan saya bisa pulang,” kenang penulis buku The Mosque as A Community Development Centre saat diberitahu sang ibu bahwa ayahnya telah meninggal. Namun, Noe’man tak mau larut dalam kesedihan. Ia harus bangkit melangkah, tunaikan amanah ayahanda tercintanya. 

Sekitar tahun 1948, untuk meraih cita-citanya sebagai arsitek, salah satu pendiri HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Bandung ini, meneruskan pendidikannya ke Universitas Indonesia di Bandung. Namun ternyata, kampus yang menjadi cikal bakal ITB ini tidak menyediakan jurusan Arsitektur. Akhirnya Achmad Noe’man memilih Fakultas Teknik Sipil.

Setahun kemudian, 1949, terjadi penyerahan kekuasaan dari Belanda ke TNI. Kemudian, dibentuklah CPM (Corp Polisi Militer) dan Noe’man termasuk di dalamnya dengan pangkat Letnan Dua, setelah sebelumnya ia meninggalkan kuliah di Fakultas teknik Sipil, karena peraturan Wajib Militer yang dibuat oleh pemerintah saat itu.

Dunia Militer dijalaninya hingga tahun 1952, setelah itu Achmad Noe’man kembali ke UI, karena kampus ini telah membuka Fakultas Teknik Sipil, Jurusan Arsitektur. “Kenapa ayah meninggalkan tentara padahal kesempatan untuk menjadi Jendral itu ada?” Ujar anggota Majelis Arsitek Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) ini, mengutip pertanyaan anak-anaknya dulu. Noe’man pun menjawab ringan, “Kalau bapak jadi jendral maka pahlawan yang berhasil dibunuh PKI itu jadi 8 orang,” katanya  sembari tertawa lepas.  

Tahun 1958, Noe’man berhasil menyelesaikan studinya. Semula ia hendak dikirim ke Kentukcy, Amerika Serikat, untuk mengambil program Master. Namun ia memilih membuka biro arsitektur Birano (Biro Arsitek Achmad Noe’man), sekaligus mengajar sebagai dosen di ITB.

Di ITB, Sebagai seorang Muslim, Achmad Noe’man tidak mungkin meninggalkan shalat jamaah yang hukumnya fardhu ‘ain. Sementara di kampus ITB untuk mendirikan Mesjid dirasa sulit, karena kebanyakan mahasiswa didominasi oleh orang China dan Belanda.

Keinginan Noe’man untuk mendirikan Mesjid di ITB mendapatkan dukungan dari Prof. Khairo Umam, gurunya di ITB. Akan tetapi, Entang Kosasih, Rektor ITB saat itu, beserta Walikota Bandung, Aspriana, tidak menyetujui keinginan Achmad Noe’man.

Noe’man muda tak patah arang. Suatu hari ia berkesempatan andiensi dengan Presiden Soekarno yang kebetulan berkunjung ke ITB. Pada pertemuan itu ayah empat anak ini menyampaikan keinginannya untuk mendirikan Mesjid. Akhirnya Soekarho pun merestui keinginan tersebut.

Tahun 1959, dibuatlah rancangan bangunan mesjid tanpa tiang dan kubah di ITB. Tak seberapa lama kemudian, sebuah Mesjid megah tanpa kubah dan tiang  berdiri tegak di kampus produsen teknokrat itu. Atas instruksi Soekarno, Mesjid tersebut kemudian diberi nama Mesjid Salman.

Pendirian Mesjid itu tanpa kubah dan tiang bagi mantan Ketua Yayasan Universitas Islam Badung ini memiliki alasan tersendiri. Mesjid yang berkubah harus ditopang oleh pondasi yang kuat. Sedangkan pondasi tidak akan kuat tanpa bantuan dari tiang-tiang yang menyangga bangunan. Bagi Noe’man keberadaan tiang jelas menjadi penghalang Shaf-shaf shalat. “Syarat wajib shalat berjamaah, kan harus bershaf, bahkan Sayyidina Umar melurukan shaf itu pakai pedang. nah saya ingat itu,” Ujar penulis buku Mosque in Malaysia ini.

Selain mesjid Salman ITB, melalui tangan kreatif seorang Achmad Noe’man, lahir pula mesjid-mesjid lain seperti Masjid Al-Furqan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Masjid Al-Markaz Al-Islami di Makassar, Masjid At-Tin, Jakarta, serta banyak mesjid lainnya.

Tak hanya di dalam negeri, arsitektur Masjid karya Achmad Noe’man pun banyak bertebaran di luar negeri. Diantaranya, Mesjid Istiqlal di Bosnia, Mesjid renovasi dari bangunan Gereja di Amsterdam, Belanda, serta Masjid yang terdapat di Cape Town, Afrika selatan. Diantara arsitektur Masjid yang dibangun Achmad Noe’man, terdapat pula peran anaknya, Fauzan. Anak ketiga dari empat saudara ini, menurut Noe’man mewarisi keahlian ayahnya.

Saat ditanya jumlah mesjid yang pernah diarsitekinya, Noe’man hanya mengatakan,“saya lupa menghitungnya!” Namun ia berharap, setiap Masjid yang pernah dibuat semoga bisa mengalirkan bermanfaat bagi umat, dan tentu menjadi jalan baginya untuk meraih ridla Allah.
  
Nama Lengkap          : Ir. Achmad Noe’man
Lahir                          : Garut, Jumat, 10 Oktober 1925
Istri                              : A. Kurniasih
Anak                           : 4 
Karya Tulis                :
-          The Mosque as A Community Development Centre: Programmes and architectural Guidelines (UTM 1998)
-          Peranan Kurikulum dan Reka Bentuk Masjid Sebagai Pusat pembangunan (Penerbit UTM 1999)
-          The Architectural Heritage Of The Malay World : The Traditional Mosque(Penerbit UTM 2000)
-          Mosque in Malaysia : Styles and Social Political Influences (Utusan Publication)
Organisasi
-          Anggota Majelis Arsitek Ikatan Arsitek Indonesia (IAI)
-          Anggota Dewan Kehormatan Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO)
-          Anggota Persatuan Insinyur Indonesia (PII)
-          Pengajar Luar Biasa ITB
-          Dewan Pembina Dompet Dhuafa Bandung

Muhammad Yasin Dedi Ahmad Soleh
Diterbitkan oleh Tabloid Alhikmah edisi 33

4 komentar:

Posting Komentar