Kumpulan tulisan Muhammad Yasin, Wartawan, Blogger dan pebisnis online

Senin, 11 April 2011

Aman Suparman Raup Milyaran Rupiah dari Kaos Kaki

Balada Aman, si Pengumpul Kaos kaki Bolong dan Bau
Keluhan pelanggan merupakan ekspresi yang sangat wajar di dunia bisnis. Dengan adanya keluhan pelanggan berarti ada respon terhadap kinerja bisnis seseorang. Hasilnya tergantung bagaimana seorang pebisnis mensikapi keluhan itu.

Tak sedikit pengusaha justru mensikapi keluhan pelanggan dengan berbalik mengeluh. Namun di tangan pengusaha kaos kaki asal Bandung, Aman Suparman, keluhan pelanggan menjadi aset bisnis yang sangat berharga. Kaos kaki wudhu merk Soka merupakan salah satu hasil nyata dari keluhan tersebut.

Bermula dari keluhan pelanggan setia bernama Ima yang saat itu (tahun 2004) berkesempatan menunaikan ibadah haji. Ritual ibadah haji ternyata menuntutnya untuk terus menjaga kesucian wudhu. Maka setiap kali batal, ia harus segera berwudhu di tempat wudhu yang penuh sesak dengan jamaah haji lainnya.

Disitulah muncul permasalahan. Setiap kali hendak berwudhu, kaos kaki yang ia kenakan harus dilepas. Tentu saja hal ini merepotkan. Belum lagi kaos kaki yang sudah dilepas terkadang harus dibuang karena kotor. Enam pasang kaos kaki yang ia beli dari Aman Suparman ternyata tidak banyak membantu saat menunaikan ibadah haji.

Sepulang dari tanah suci, Ima menyampaikan keluhannya kepada Aman. “Ada kaos kaki yang bolong ga? Jadi, kalau wudhu kaos kakinya ga usah dilepas!” kata Aman Suparman, menirukan keluhan pelanggannya ketika itu.

Tak mau membuang peluang, keluhan pelanggan itu direspon segera oleh Aman. Pria kelahiran Bandung, 15 Januari 1982 itu melakukan serangkaian uji coba membuat kaos kaki yang bisa tetap nyaman digunakan, meski saat berwudhu.

Menurut pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Kaos Kaki Indonesia (APKKINDO) Jawa Barat ini, produsen wajib mengikuti keinginan konsumen. Kalau menurut pandangan produsen bagus tapi menurut konsumen tidak, maka hasilnya tidak akan laku di pasaran.

Maka pada tahun 2007, diluncurkanlah produk kaos kaki praktis. Namun lantaran namanya dianggap kurang menjual, maka peyebutannya pun berubah menjadi kaos kaki wudhu. Kaos kaki berbahan nylon dan spandek ini dirancang sedemikian rupa, dengan lubang di bagian bawah, agar pengguna tak perlu repot melepas, saat hendak berwudhu. Cukup dilipat atau ditarik ke atas, pengguna sudah bisa mengambil air wudhu dengan leluasa.

Peluncuran kaos kaki wudhu merk Soka ini sekaligus mengukuhkan kehebatan Aman Suparman dalam berinovasi, menciptakan rancangan kaos kaki terbaru, khususnya bagi para muslimah.

Sebelumnya Aman Suparman melakukan gebrakan dengan menciptakan kaos kaki jempol bermerek Al Amin. Kaos kaki dengan lekukan di antara ibu jari dan jari kedua pada telapak kaki ini dirancang untuk memudahkan muslimah saat menggunakan sandal. Setelah kemunculannya merajai pasaran kaos kaki muslimah, banyak produsen kaos kaki lainnya ikut-ikutan memproduksi kaos kaki jempol.

Kaos kaki wudhu Soka pun demikian. Setelah dipasarkan, banyak produsen yang meniru idenya. “Awal mulanya tidak ada saingan. Setelah berjalan tahunan, muncul produk serupa di internet. Bahkan yang dari Cina juga ada, dan harganya lebih murah dengan kualitas di bawah,” kata Ketua III Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jawa Barat ini, saat ditemui Alhikmah di kediamannya yang asri di bilangan Saturnus Tengah, Margahayu Raya, Bandung.

Bermula dari Hobi
Saat usia Aman menginjak remaja, muncul kebiasaan pada dirinya yang tak lumrah. Ia senang sekali mengumpulkan kaos kaki. Hal ini berlanjut hingga Aman duduk di bangku kuliah.

Saat ditanya asal muasal hobinya yang unik itu, ia malah tersenyum. “Saya juga ga tau kenapa senang koleksi kaos kaki,” ungkap Komite Tetap Perdagangan Dalam Negeri Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Jawa Barat ini.

Karena kebiasaannya yang aneh ini, Aman kerap mendapat ejekan dari teman-teman sekelasnya. Mereka menyebutnya si Pengumpul Kaos kaki Bolong dan Bau. Meski begitu, Aman tetap bergeming.

Bahkan hobinya ini kian mendapat tempat saat Aman memasuki dunia kampus. Kebebasan berekspresi dalam berbusana di lingkungan kampus, ia tunjukan dengan memakai kaos kaki yang tak lazim dikenakan. Kadang bermotif gambar lucu, salur, atau motif lainnya yang tidak banyak dipakai orang.

“Setiap ke luar negeri yang pertama dibeli pasti kaos kaki. Dari koleksi itulah bisa menjadi inspirasi saya di kemudian hari,” ungkap Aman.

Memulai Usaha di Usia Remaja
Kiprahnya di bidang usaha kaos kaki sudah dimulai sejak Januari 2002, atau saat Aman baru berusia 20 tahun. Dua tahun kemudian ia mendirikan CV. Al-Amin pada 25 Mei 2004, lalu mulai memasarkan produknya lewat internet, dan jalur konvensional dengan mendatangi pelanggan-pelanggan di kota-kota besar di Indonesia, bahkan luar negeri.

Kini, setiap bulannya, Aman bisa melepas minimal seribu lusin kaos kaki wudhu merek Soka, atau sejumlah 12 ribu pasang kaos kaki. Jumlah tersebut naik 3 kali lipat jika musim haji tiba, menjadi 3-4 ribu lusin kaos kaki. Jumlah tersebut merupakan pesanan para distributor, khususnya distributor luar negeri, semisal Singapura dan Malaysia. Dari dua distributor inilah kaos kaki wudhu milik Aman bisa didapatkan di beberapa lokasi di kota suci Mekah.

“Saya dapat kabar dari teman yang pergi haji ke Mekah. Mereka lihat kaos kaki Soka sudah ada di sana. Meskipun tidak banyak, tapi itu menjadi kebanggan saya. Merek kita ada di sana,” kata Aman.

Hebatnya lagi, kaos kaki wudhu Soka ternyata tidak hanya dipakai kala musim haji tiba. Belakangan kaos kaki wudhu ini menjadi tren di kalangan muslimah, karena banyak mereka gunakan di setiap kondisi. Tren ini terus menguat sehingga kaos kaki wudhu Soka ini menjadi identik dengan kaos kaki muslimah.

Setelah citra kaos kaki wudhu menguat di kalangan muslimah, ditambah jamaah haji dan umrah dari kalangan laki-laki, maka dibuatkanlah kaos kaki haji. Kaos kaki ini modelnya sama dengan kaos kaki wudhu, namun penamaannya berubah, menjadi lebih terarah kepada para jamaah haji baik laki-laki atau perempuan, yaitu kaos kaki haji.

Saat ini Aman memiliki beberapa perusahaan kaos kaki dengan omset mencapai milyaran rupiah, antara lain; PT. Mitra Niaga Internasional (MNI), PT. Soka Cipta Niaga (SCN), CV. Al-Amin, CV. Amani Sejahtera. Perusahaan kaos kaki ini memiliki 55 distributor dengan 144 agen yang tersebar di berbagai wilayah di dalam, pun luar negeri.

Hobi mengoleksi kaos kaki akhirnya mengantarkan Aman ke puncak karir bisnis dia. Di usianya yang belum kepala tiga, Aman sudah menorehkan prestasi luar biasa. Komisaris Utama PT. Mitra Niaga Internasional (MNI), Direktur Utama PT. Soka Cipta Niaga (SCN), Pendiri sekaligus Pemilik CV Al-Amin, CV Amani Sejahtera, Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) Mitrass, adalah diantara banyak posisi yang kini tengah diduduki.

Lebih dari itu, Disamping mencari keuntungan berupa materi, Aman juga memiliki visi dakwah dalam bisnisnya. “Selain agar kaum muslimah dapat menutup aurat dengan cara yang nyaman, saya juga berharap dengan menyebarnya agen dan distributor diharapkan bisa menciptakan aktivitas muamalah yang saling menguntungkan baik dunia maupun akhirat,” ungkap Aman menutup perbincangan.

Diterbitkan oleh Tabloid Alhikmah edisi 46

4 komentar:

Posting Komentar