Kumpulan tulisan Muhammad Yasin, Wartawan, Blogger dan pebisnis online

Kamis, 23 Mei 2013

Qu Cuci Laundry, Promosi Dompleng Kegiatan Politik


Bisnis laundry kiloan tidak hanya tumbuh subur di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Bisnis ini ternyata tumbuh juga di kota-kota kecil yang mayoritas penduduknya masih menggantungkan usahanya di bidang pertanian, peternakan dan perkebunan.

Sebut saja di kabupaten Garut Jawabarat. Kabupaten yang terletak sekitar 64 km sebelah tenggara Bandung ibu kota Jawa Barat ini, lima tahun silam teryata sudah ada yang berani terjun memulai bisnis laundry kiloan.

Qu Cuci Laundry nama usahanya. Jasa laundry kiloan ini merupakan yang pertama hadir di kota dodol ini. Ismail Satriyanto sang pengelola Qu Cuci Laundry menuturkan susahnya meyakinkan investor untuk memulai bisnis laundry di kota kecil ini. "Mohon maaf Pak Ismail, Garut masih belum baik untuk berinvestasi, karena usaha-usaha di Garut belum baik,” tutur Ismail menirukan calon invetor.

Melalui perkenalannya dengan Ir. Rahman pengusaha laundry asal Bandung, ia pun berhasil mendirikan QU Cuci Laundry pada tanggal 18 Juli 2006. Penamaan QU sendiri diambil dari dua kata, Quality Utama. Artinya kualitas harus diletakkan menjadi prioritas yang utama.

Saat itu ia hanya bermodalkan mesin cuci di rumah seadanya, motor bekas yang belum lunas untuk antar jemput serta pengawai 3 orang. Begitu usahanya buka, tidak banyak masyarakat yang datang.

Cara Unik Mengemas Promosi
Sebagai pionir bisnis laundry kiloan tentu sangat berat untuk memperkenalkan usahanya. Tapi bagi Ismail semua pasti ada jalan keluarnya. Ia coba menciptakan brand usahanya melalui cara-cara unik utuk menarik perhatian masyarakat.

Cara unik tersebut ia lakukan dengan cara mengaitkan bisnisnya kepada isu politik yang sedang berkembang. Sebagai contoh saat ramai pemilihan Bupati Garut, ia turut meramaikan situasi tersebut dengan menyebar foto-foto lucu dirinya bergaya seorang calon Bupati.

Foto-foto tersebut ditempel di setiap penjuru kota dan kecamatan dengan bertuliskan “Pendukung Politik Bersih”. Namun jika diperhatikan lebih dekat lagi ternyata pamplet tersebut berisi iklan bisnis laundry Qu Cuci.

“Kita promosinya memanfaatkan kertas fotocopian yang menggunakan kata-kata politik dan sindiran-sindirian intelektual. Di kertas itu juga saya memberikan solusi-solusi yang diperuntukkan untuk orang-orang intelektual” tutur Ismail.

Tentu saja ia memiliki pertimbangan mengapa cara itu dipilihnya. Pertama ia melihat bahwa konsumennya adalah orang-orang sukses dan kaum intelek. Menurutnya orang orang tersebut membutuhkan hiburan intelektual dan kata-kata kritis yang membela kepentingan orang banyak.

Kedua menurutnya promosi harus menggunakan hal hal yang unik. Apalagi sebagai poinir bisnis yang tidak banyak dikenal orang.

Hasilnya ternyata luar biasa, branding Qu Cuci Laundry menjadi sangat kuat. Sampai-sampai setiap kali ia mengisi acara di sebuah pertemuan, selalu ada yang berteriak “hidup pendukung politik bersih”.

“Saya sangat senang, karena strategi pasar laundry dengan cara unik itu berhasil. Saking simpatinya dan dianggap brialiandnya ide ide saya, beberapa orang baik di perkotaan atau di kecamatan-kecamatan berdatangan meminta saya mencalonkan diri menjadi Bupati Garut” tuturnya.

Terapkan Empat Stretegi
Setelah branding tersebut mulai perlahan terbentuk, ia kemudian melanjutkan strategi untuk mengembangkan usahanya supaya lebih mapan. Strategi pengembangan bisnis laundrinya ini ia pilah menjadi 4 strategi, yaitu

Pertama, Memperkuat finansial yang ia sebut leader. Di sini laporan keuangan sebagai pengendali atau leader. Perusahaannya tidak dipimpin oleh orang, tetapi oleh laporan keuangan.

Keputusan ia berikan kepada karyawan sepenuhnya. Ukurannya kinerja diletakan kepada percepatan pendapatan bruto. Karena menurutnya cara untuk mempercepat pendapatan adalah dengan cara memaksimalkan aset-aset yang dimiliki berupa barang-barang dan orang-orang yang harus dimaksimalkan.

Kedua, perkuat pelanggan yang ia sebut sebagai ujung tombak. Pada bagian ini bagian penjualan harus mampu dari satu menjadi dua, tiga dan seterusnya. Mereka harus melayani pelanggan dengan cara yang sangat memuaskan.

Bagian pemasaran ini pun harus mampu membangun opini publik melalui berbagai cara. Diantaranya menyebarkan leflet yang ditempel di dinding kurang lebih 8000 perbulan. Begitu juga dengan motor dan mobil semuanya ditempel “Qu Cuci Pendukung Politik Bersih”. Kendaraan-kendaraan tersebut akan berkeliling di jalan-jalan di Garut.

Ketiga, perkuat produksi. Pada bagian ini kecepatan pencucian dan mutu cucian yang harus memuaskan pelanggan. Sama seperti kebanyakan bisnis laundry kiloan lainnya, paketnya pun tak banyak berbeda, seperti pencucian ekpres dan standar sampai ke pengantaran barang.

Mungkin dari segi harga yang sedikit berbeda. Setiap pakaian cucian perkilonya dikenakan biaya 7000 sudah termasuk jasa penyetrikaan. Ada juga karpet dengan biaya pencucian 5000 permeter. Serta cuci satuan untuk bad cover atau selimut 8000 persatu.

Keempat, perkuat seleksi staf dan pelatihan. Seleksi staf dilakukan selama tiga bulan. Sementara pelatihan dilakukan setiap satu minggu satu kali melalui rapat koordinasi sesuai dengan bidangnya masing masing.

“Pegawai-pegawai saya terlatih melayani pelanggan. Setiap rabu kita rapat koordinasi staf pimpinan. Setiap jumat kita rapat koordinasi staf bagian produksi dan admin. Setiap seminggu dua kali rapat staf bagian pemasaran dan anggotanya untuk promosi” kata Ismail.

Jika omset QU Cuci bertambah tak segan-segan ia mengajak karyawanya yang jumlahnya mencapai 43 orang itu untuk berekreasi ke tempat wisata.

Sabar dan terus belajar adalah kata kunci suksesnya. Ia akhirnya melewatai masa-masa sulit itu. Terbukti saat ini Qu Cuci yang berpusat di Jalan Purnawarman No.37 Garut telah memiliki 10 cabang yang tersebar di Kabupaten Garut diantaranya di Ciledug, Kerkop, Pasawahan, Leles, Kadungora, Karangpawitan, Cibatu, Banyuresmi, Bayongbong dan di Cikajang.

Dari 10 cabang Qu Cuci tersebut Ismail meraup omset antara 40-50 juta setiap bulannya. Belum lagi ia bisa membeli rumah sebagai tempat produksi, memiliki satu mobil dan lima motor besar untuk pengantaran.

“Saya berbisnis untuk beribadah kepada Allah. Saya ingin membangun manusianya dari kemiskinan. Staf saya semuanya dilatih untuk menjadi pengusaha. Jika sudah mampu, boleh mandiri, meskipun membuka sendiri laudry seperti saya,” kata pengusaha yang juga motivator ini.

Terbukti berkah dari didikannya, beberapa karyawannya sudah membuka usaha laundry sendiri. Usaha-usaha laundry ini pun turut meramaikan binis laundry di kota dodol ini.

Penulis : Muhammad Yasin
Diterbitkan oleh Majalah Pengusaha Muslim Edisi 13.
Volume 2. Januari September 2011
Rubrik Laporan Utama Tema Bisnis Laundr Banjir Rezeki

2 komentar:

Posting Komentar