Kumpulan tulisan Muhammad Yasin, Wartawan, Blogger dan pebisnis online

Jumat, 04 Februari 2011

SIMSALABIM, Sulap itu Trik atau Sihir?

Dalam kamus online, Indonesia-English Dictionary www.eudict.com, baik tukang sulap ataupun tukang sihir sama-sama diartikan magician.

Kreatifitas dunia hiburan memang terus bergerak, entah sampai titik mana. Dalam perjalanannya, dunia hiburan selalu mencari bentuk unik agar terlihat menarik dan dapat ‘diterima’ di masyarakat. Sulap merupakan satu contoh hiburan yang kini tengah daun, di ranah hiburan negeri ini.

Sulap sebuah tontonan yang membuat mata penonton terpana dan terbelalak. Bagaimana tidak, sesosok manusia bisa hilang begitu saja hanya dengan hitungan detik. Bahkan kepala manusia bisa dipotong-potong, namun masih tetap bernyawa tanpa ada sedikitpun luka yang membekas. Sungguh di luar nalar manusia normal.

Sulap sendiri menurut pendiri Magic Station School of Magic (MSSM) Didi I Pusu, Sebagaimana dikutip republikaonline, merupakan keahlian dan juga teknik yang menggabungkan ilmu sains, ilmu seni, psikologi dan juga ilmu hiburan.

Karena itu, Didi kerap menyebut pesulap sebagai aktor yang sedang berperan sebagai orang yang ahli dalam hal sihir. Hal ini sesuai dengan asal kata sulap yang berasal dari bahasa Melayu 'silap' berarti penglihatan atau perasaannya tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya.

Maka tidak heran, jika kemudian sulap dianggap sebagai seni hiburan yang paling mahal harganya. “Yang saya tahu Sulap adalah suatu seni yang paling mahal, dimana beberapa jenis seni masuk ke dalam sulap seperti seni musik, seni akting, seni kecepatan tangan, seni berbicara (mentalis) serta seni body language,” ungkap Humas Komunitas Sulap Bandung (KSB) , Billy Saiko, kepada Alhikmah beberapa waktu lalu.

Sulap akhir-akhir ini banyak digandrungi oleh masyarakat Indonesia sejak kemunculan Dedy Corbuzier, Demian Aditya, Adri Manan dan Rommy Rafael di dunia pertelevisian.

Puncaknya, ketika RCTI menayangkan program ‘The Master’ bertajuk “Mencari Bintang Tanpa Mantera” awal Februari 2009 lalu. Ratusan orang mengantri untuk mengikuti audisi agar bisa meraih gelar The Master.

Padahal menurut penuturan Indra Produser The Master dalam jumpa persnya di gedung RCTI 2 Februari 2009 sebagaimana dikutip Kapanlagi.com, seleksi peserta The Master dilakukan secara tertutup se-Jabodetabek dan Bandung.

Dari program inilah kemudian muncul pesulap fenomenal seperti Joe Sandy, Abu Marlo, Limbad dan Rizuki. Dalam memperkuat eksistensinya RCTI kemudian menambah program sulap berjudul Deddy Corbuzier "Master Mentalis" yang tayang mulai 21 April 2009 serta Rommy Rafael Master Hipnotis yang tayang mulai 11 Mei 2009. Serta beberapa tayangan sulap lainnya.

Sulap memang tidak hanya menyasar orang dewasa, anak kecil pun menjadi target potensial. Bahkan sulap sampai dibalut dengan kepentingan ‘dakwah’ Islam seperti yang dibawakan oleh Mr. Mind.

Booming sulap tidak hanya berlaku di pertelevisian beberapa situs kemudian bermunculan menawarkan alat-alat sulap. Lembaga pendidikan sulap mulai marak bermunculan di berbagai kota. Tidak ketinggalan juga beberapa produk makanan anak menawarkan hadiah berupa alat-alat sulap yang sederhana.

Kontroversi Sulap
Paska penayangan The Master yang menampilkan adegan fakir sulap ekstrim, berupa melukai diri sendiri dengan benda-benda tajam dan berbahaya, sekitar 25 Pesantren di Jawa Timur yang dimotori oleh, ketua MUI Jawa Timur, KH. Khoirul Rozy angkat bicara.

Melalui rapat Bahtsul matsail yang digelar pesantren Abu Dzarrin, Kendal, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, MUI Jatim mengambil kesimpulan bahwa acara The Master masuk dalam kategori haram.

Sebelumnya, menurut KH. Khoirul Rozy kepada Alhikmah, perdebatan 25 pondok pesantren di Jatim memunculkan rumusan boleh menonton atraksi tersebut jika dalam katagori asrar atau ma’unah (pertolongan) dari Allah dengan catatan tiga hal:

Pertama, orang yang melakukan atraksi tersebut berpegang teguh pada agama secara sempurna. Kedua, sesuai syariat serta tidak membahayakan orang lain menurut pandangan syariat. Ketiga, ada dugaan kuat akan selamat dalam menjalankan atraksi.

Namun, tambah Rozy, jika tidak sesuai dengan ketentuan tersebut, maka atraksi yang ada di the Master dikategorikan sebagai khairiqul adza, atau kejadian di luar batas manusia biasa.

“The Master ini bukan sulap atau bukan intrik, tapi ada bantuan makhluk lain. Sulap itu hanya sebatas intrik tanpa ada bantuan makhluk lain, misalnya kecepatan tangan. Kita melihat dalam the Master, manusia tidak mungkin seperti itu. Sehingga kami mengkategorikan the Master sebagai sihir, serta hukumnya haram,” tegas Rozy kepada Alhikmah.

Selain dari nash Alquran dan Hadits, rujukan fatwa tersebut diakui Rozy, juga diambil dari kitab-kitab salaf, semisal; Fatawi alhaditsiyah, Khasiatul Jamal, Fatawi al Azhar, Bayan Ikhtilaf fi Rijal wa Nisa, Fatawi as sabkalah al Islamiyyah. Termasuk salah satunya kitab Bughyatul Mustarsyidin, halaman 298-299, yang menerangkan, jika pertunjukan tersebut dikategorikan sebagai sihir, maka hukumnya haram.

Sementara itu, seperti dikutip Antaranews.com, mantan anggota Komisi Fatwa MUI yang juga Ketua MUI Samarinda, KH. Zaini Naim, melihat tayangan `The Master` tidak mengandung unsur `edukasi`(mendidik).

"Tayangan itu hanya bersifat entertainmen (hiburan) belaka dan bukan edutainment (hiburan yang mendidik). Jadi, saya menilai acara itu sangat berbahaya jika ditonton," ujarnya.

"Dalam Al-quran kita telah diingatkan, jangan mencampakkan diri ke dalam perbuatan atau tindakan yang membahayakan. Jadi, saya rasa, semua ulama akan melihat persoalan itu sebagai suatu titik yang bisa membahayakan diri sendiri maupun orang lain," ujar KH. Zaini Naim.

Tayangan The Master yang ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta di tanah air menurut KH. Zaini Naim, harus segera dihentikan sebab hal itu bisa mempengaruhi psikologis anak.

"Coba bayangkan jika tangan itu ditiru anak-anak. Kami (MUI Samarinda) akan segera memberikan masukan kepada MUI Pusat untuk segera mengambil sikap terkait tayangan itu," tegas Zaini Naim.

Menanggapi fatwa MUI Jatim, Limbad, salah seorang pesulap the Master menyangkal hal tersebut. "Ya, pokoknya apa pun yang saya lakukan hanyalah sekedar hobi semata dan orang-orang tidak meniru atau terambisi untuk melakukan ini. Harus latihan yang khusus. Dan ini tidak mengandung unsur syirik dan haram," katanya, sebagaimana dikutip kapanlagi.com.

Hal senada diungkapkan Wahyu Ramadhan Marketing Communications Department RCTI. “Kita sudah melakukan audiensi dengan MUI pusat pada bulan Juli, dan tidak ada masalah. Jadi untuk fatwa itu kita tekankan sekali lagi bahwa tayangan The Master tidak ada unsur magis ataupun mistis,” ungkap Wahyu kepada Alhikmah.

Diantara Motif
Berbicara ihwal motif, Wakil ketua Dewan Pakar Asosiasi Psikologi Islami (API), Drs. Yadi Purwanto, MM., MBA kepada Alhikmah mengatakan, seseorang mempelajari sulap karena ingin berbeda dengan yang lain, ingin lebih dari yang lain, dan ingin menunjukan bahwa dirinya memiliki keunggulan dan keajaiban.

Hal ini diakui Juara 1 The Master Session 4, Rizuki, saat dihubungi Alhikmah beberapa waktu lalu. “Efek yang aku rasakan saat belajar sulap adalah aku jadi merasa unik aja. Merasa berbeda dari yang lain. Ketika orang lain terkagum-kagum menonton sulap, aku sudah bisa menguasai triknya” tuturnya.

Demikian pula Indra Yunta. Pendiri Sekolah Sulap “Exorcist” di Surakarta ini menuturkan kepada Alhikmah bahwa motif dirinya mempelajari sulap, sampai kemudian mendirikan sekolah sulap dilandasi keinginannya berbeda dengan orang lain. “Sulap sendiri adalah satu keterampilan yang berbeda dengan orang kebanyakan. Saya tidak bisa melukis ataupun menyanyi, sehingga sulaplah yang menjadi pilihan saya,” katanya.

Tentu tak sekedar ingin beda, motif selanjutnya menurut Yadi, karena ada motif bisnis kapitalisme. “Era hiburan sekarang ini banyak memanfaatkan nuansa semi mistis, meskipun kemudian Dedy Corbuzier mengatakan ini bukan magic atau sihir.

Pengamat Media, Nina Armando, mengamini hal ini. “Jelas, industri media adalah industri padat modal yang harus mendatangkan keuntungan. Yang menyedihkan mereka tidak memikirkan apa dampak yang muncul, kemungkinan yang ada dampak negatifnya terhadap masyarakat,” ungkap Nina.

Perspektif Akademis
Secara psikologi, Drs. Yadi Purwanto, menganalisa bahwa pesulap dianggap orang yang memiliki kemampuan khusus. Kemampuan khusus ini konotasinya bisa negatif bisa juga positif.

“Konotasi positif, jika ranahnya kognitif, afektif, dan psikomotorik biasa. Misalnya; yang kognitif pesulap lebih cerdas dari umumnya manusia. Yang afektif pesulap bisa memanipulasi perasaan penonton. Yang Psikomotorik pesulap memiliki tingkat keterampilan berupa kecepatan, ketepatan, ketelitian dan kratifitas,” urai Yadi.

Sedangkan pesulap berkonotasi negatif, lanjut Yadi, saat pesulap memasukan unsur-unsur magis ke dalam atraksinya.“Namun, yang menjadi masalah adalah perbedaan antara magis dan tidak magis itu tidak bisa dipahami oleh penonton. Perbedaan ini hanya akan dipahami oleh pesulap itu sendiri dan ahlinya. Kalau masyarakat awam cuma mencari kesenangan saja,” terang Yadi kepada Alhikmah

Masih menurut Yadi, dari sisi penonton, bahwa dalam diri manusia terdapat the locus of mystery, yaitu lubang misteri yang harus dipuaskan. Oleh karena itu manusia selalu menginginkan sesuatu yang takjub. Sesuatu yang takjub biasanya diangap memiliki kemampuan ekstra human yaitu kemampuan di luar manusia pada umumnya.

Namun, kemudian, cenderung berlebihan. Misalnya, Pesulap yang mempertontonkan atraksi yang menakutkan. “Di dalam Islam itu jelas haram. Karena bermain-main dengan kematian itu haram. Apalagi dipertontonkan secara nasinal melalui TV. Jadi pertunjukan kekerasan itu tidak boleh,” tegasnya.

Terlebih, ungkap Yadi, hal tersebut menimbulkan efek ngeri, trauma, mual sampai muntah bagi penonton. Sebagian lagi kebal rasa, menikmati, bahkan merasa jika tidak ekstrim tidak menarik. Yadi menegaskan, “orang seperti ini cenderung sadistis, Narcissistic. artinya senang melukai diri sendiri. Gejala ini, gejala orang-orang yang sakit mental. Ini merusak iman. Ini merusak rasa empati pada penderitan orang menjadi hilang. Penyakit yang ditimbulkan anti social, psikopat, meniru (modeling) di rumah.”

Pengamat dan Aktifis Media, Nina Armando berpendapat tak jauh beda. Pandangan Nina, tayangan sulap, khususnya The Master, memiliki dua permasalahan. Pertama, adanya atraksi yang membahayakan dan menyeramkan. Kedua, adanya tayangan hipnotis.

Tayangan hipnotis, menurut Nina, berpotensi menginspirasi seseorang untuk melakukan hal serupa namun dengan tujuan yang buruk, karena Hipnotis bisa dilatih, mudah dilakukan dan bisa untuk tujuan apapun. Hal ini berbahaya bagi konsumsi anak-anak dan remaja, kelompok segmen yang rentan terkena pengaruh media.

“Mereka belum kritis, sehingga besar kemungkinan mereka akan meniru. Ada hal-hal yang bisa jadi ditiru, seperti adegan berbahaya dengan api dan senjata tajam,” tutur Nina kepada Alhikmah.

Meskipun dalam tayangan tersebut disampaikan ‘dilarang meniru adegan ini’, ada kemungkinan beberapa orang justru terpicu untuk meniru adegan tersebut karena ada tulisan larangannya. Ini menurut Nina yang dimaksud dengan disorbsi. Maksudnya menghibur namun menimbulkan isu negatif.

Nina membenarkan teori masyarakat pasif, yang hanya menerima, tapi tidak bersikap kritis masih sangat kuat di Indonesia. Dalam pengamatan di berbagai literatur dan pengalamannya aktif di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), masyarakat Indonesia masih belum kritis serta bersikap pasif.

“Masyarakat menikmati televisi dengan menelan mentah-mentah. Itu pun terjadi di berbagai negara lainnya. Menjadikan televisi sebagai teman yang harus menyala terus, sebagai penghibur dan menjadi bagian dalam keluarga. Bagi anak-anak televisi menjadi baby sitter yang ‘baik’,” paparnya.

Penulis : Muhammad Yasin
Penyunting : hb Sungkaryo
Liputan : Erni, Lygia

0 komentar:

Poskan Komentar