Kumpulan tulisan Muhammad Yasin, Wartawan, Blogger dan pebisnis online

Jumat, 04 Februari 2011

‘Tiputaintment’ dan Degradasi Akidah Umat

Mereka berkata: "Hai Musa apakah kamu melemparkan atau kami yang pertama melemparkan?" Musa berkata: "Silahkan kamu lemparkan." Maka tiba-tiba tali dan tongkat mereka, terbayang oleh Musa seakan merayap cepat, lantaran sihir mereka. Maka Musa takut dalam hatinya. Kami berkata: "jangan takut, sesungguhnya kamu yang paling unggul. Dan lemparkanlah yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. "Sesungguhnya yang mereka perbuat itu tipu daya tukang sihir. Dan tidak akan menang tukang sihir, dari mana saja ia datang.” (QS Thaha : 65-69)

Sulap dan sihir merupakan upaya menipu seseorang dengan atraksi tertentu yang membuat penonton memiliki kesan berbeda dengan kenyataannnya. Sulap dan sihir sama-sama menipu, tetapi keduanya memiliki perbedan mendasar.

Sulap dapat diartikan upaya menipu pandangan dengan menggunakan trik kecepatan tangan, juga kolaborasi antara ilmu sains, ilmu seni, psikologi dan ilmu hiburan. Namun, tak menutup kemungkinan bisa disalahgunakan melalui sinergi dengan makhluk ghaib, semisal jin atau setan. Sedangkan sihir, adalah upaya menipu, dengan menggunakan bantuan makhluk halus, baik itu jin maupun setan secara total.

Sebagaimana penuturan beberapa narasumber ulama yang dihimpun Alhikmah, sulap di dalam literatur ke-islaman memang tidak disebut. Yang ada hanyalah istilah sihir.

“Sulap dalam Islam saya belum mempelajari. Pada hadist Nabi, juga tidak disinggung tentang masalah itu. Kecuali sihir, yang dikaitkan dengan syair-syair untuk mempesona orang,” tutur Ketua Divisi Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. Said Budairy.

Hal senada diperkuat Sekretaris Dewan Hisbah PP Persatuan Islam (PERSIS), KH. Wawan Sofwan Solehudin. “Pada intinya di dalam Islam itu hanya ada istilah sihir. Sihir itu ada yang berbentuk sulap ada juga yang berbentuk kejahatan-kejahatan lainnya, seperti konspirasi jahat.”

Hukum melakukan sihir dengan menggunakan bantuan makhluk halus dalam Islam sudah jelas dinyatakan haram, karena identik dengan perilaku setan. Seperti Firman Allah SWT, "Sesungguhnya yang mereka perbuat itu tipu daya tukang sihir. Dan tidak akan menang tukang sihir, dari mana saja ia datang,” (QS Thaha : 69).

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat dalam situs resminya www.kpi.go.id, tertanggal 16 Juli 2009, bahkan melayangkan surat teguran kepada SCTV dan RCTI. Meski bukan atas dasar Qur’an dan Hadist, KPI menemukan adanya pelanggaran Standar Program siaran (SPS) pada program dua stasiun TV tersebut.
Program “House of Demian” yang tayang di SCTV Minggu 12 Juli 2009 pukul 18.00 WIB. Demian menampilkan adegan memasukkan benang dari mulut melalui mata kanannya dan diambil secara close-up.

Sedangkan acara “The Master Season, 4 War of Magic Part II” yang tayang di RCTI Sabtu, 11 Juli 2009 pukul 13.00 WIB, pesulap Cosmo (Fakir Magician) melakukan adengan memotong lidah, leher dan kaki. Selain itu, Cosmo juga mengundang penonton untuk memperagakan adegan menusuk-nusuk bagian tubuhnya.
KPI melihat bahwa kedua stasiun tersebut tidak memperhatikan dan melindungi kepentingan anak-anak dan remaja seperti yang telah diatur dalam pasal 17 SPS. Mereka cenderung mengumbar unsur kekerasan.

Selama tidak Mengandung Unsur Sihir
Berbeda dengan sihir, sulap, jika sekedar hiburan dengan atraksi kecepatan tangan atau menggunakan alat tertentu yang tidak membahayakan, diperbolehkan dalam Islam.

Seperti penuturan Rois Suryah, Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU), KH. Hafidz Usman kepada Alhikmah, “Sulap adalah sebuah permainan yang menampilkan sesuatu dengan kecepatan tangan. Hal itu yang diperbolehkan.”

Hal senada diungkap Guru Besar Pasca Sarjana Universitas Islam Bandung (Unisba), Prof. Dr. KH. M Abdurrahman, MA, dengan syarat sulap tersebut tidak digunakan untuk menipu hingga merugikan orang lain. “Sulap itu kan suatu permainan yang sifatnya menghibur dan boleh saja, selama tidak mengarah kepada penipuan,” ungkapnya.

KH. Anwar Ibrahim selaku Ketua Fatwa MUI turut menguatkan hal tersebut. “Seperti yang saya bilang sebelumnya, jika hanya mengandalkan kecepatan dan sekedar permainan tidak masalah,” katanya.

Demikian pula pendapat Wawan Sofwan. “Semua orang itu butuh hiburan. Islam juga menganjurkan ada hiburan. tetapi hati-hati jangan sampai hiburan ini justru menghipnotis kita sehingga mengeluarkan biaya-biaya yang sebetulnya di luar keperluan untuk hiburan. Ini mendidik konsumerisme, Jadi bukan hiburan lagi,” ungkap Wawan.

Menguatkan Wawan, dalam artikelnya, Negeri Sulap Itu Bernama Indonesia, Burhan Sodiq, lebih rinci lagi memberikan rambu, terutama terhadap umat Islam sebagai khalayak/ pasar terbesar yang disasar oleh pertunjukan, tayangan, dan tontonan semisal sulap.

Ia menuliskan bahwa penonton memang tidak boleh disinggung dalam soal keyakinan dan agamanya. Mereka hanya cukup disentuh sisi keheranan, ketakjuban, kekaguman dan akhirnya menganggap bahwa para mentalis itu hebat di mata para penonton.

Sehingga, menurut Burhan, lambat laun proses pencucian otak ini pun berjalan. Khalayak akan menjadi fans yang setia tanpa harus diminta ataupun dipaksa. Mereka akan bergaya hidup sebagaimana sang idola dengan penuh bangga dan jiwa yang besar. Sehingga hasilnya bisa segera dilihat. Fatwa ulama seharam apapun tidak akan menjadi sebuah pertimbangan. Karena jiwa dan hati sudah didominasi rasa heran dan takjub.

Mirip seperti zaman Musa dan Firaun. Kerajaan Firaun sangat gemar mempertontonkan keahlian bersihir di depan rakyatnya. Mengubah tongkat menjadi ular dan berjalan di atas api serta pertunjukan sihir lainnya. Mereka suka dengan itu semua. Dan kini, zaman itu bergulir lagi dengan kemasan yang lebih modern.

Penonton sudah tidak mau lagi peduli apakah ini akan menjerumuskan mereka pada syirik kepada Allah ataukah tidak. Karena pesan yang disampaikan oleh televisi nampaknya sudah mengakar kuat bahwa ini hanya semata sebuah hiburan dan entertainment. Dan layaknya sebuah bisnis, dunia hiburan selalu membutuhkan sensasi yang menakjubkan. Di sinilah kemudian, dunia hiburan menjadi kiblat baru dalam menjalani kehidupan. Sementara agama hanya berlaku di sudut-sudut musola kecil dan masjid-masjid yang lengang.

Anak anak yang gemar melihat ini akan menjadi anak yang bermental keruh. Mereka belum cukup mampu membedakan antara sebatas hiburan atau sudah menjadi tuntutan. Sementara di sisi lain, mereka tidak cukup mendapat asupan pendidikan agama, akidah yang benar serta bagaimana Islam memandang sebuah persoalan. Konsep la haula wa la quwwata illa billah menjadi gamang bagi mereka. Karena bisa jadi Allah menjadi nomor sekian, dan para mentalis itu menjadi semakin hebat di mata mereka.

Karena itu, Burhan menghimbau agar umat ini harus selalu dekat dengan ulamanya. Menggandeng mereka dalam setiap fenomena kehidupan yang mereka jalani. Ulama akan selalu menjadi terang bagi umatnya. Memberi tahu yang benar, dan menyalahkan yang salah.

Sehingga kemasan ‘Tiputaintment’ – istilah penulis, menyingkat ‘Tipu-tipu’ Enterteintment –, tidak menjadi sumber degradasi akidah umat. Wallahu a’lam.


Penulis : Muhammad Yasin
Penyunting : hb Sungkaryo
Tim Liputan : Ernie a.s. Ligya
Diterbitkan oleh Tabloid Alhikmah edisi 39


Tulisan Berkaitan
SIMSALABIM, Sulap itu Trik atau Sihir?
Yadi Purwanto,“Sulap dan Sihir Bedanya Tipis Sekali!”

1 komentar:

Posting Komentar