Kumpulan tulisan Muhammad Yasin, Wartawan, Blogger dan pebisnis online

Rabu, 30 Maret 2011

Di Villa Domba Suhadi Tersenyum Menikmati Pensiun

Dunia bisnis memang unik. Perlu improvisasi agar tidak berpikir stagnan, terpaku pada rencana tertulis yang seolah tak memiliki ruang untuk perubahan. Tak jarang, kesuksesan diraih, justru tanpa sengaja, saat kita mampu menjawab tantangan zaman. Dengan begitu, bukan mustahil, sekali mendayung, dua, tiga, empat,..... pulau bisa terlampaui.

Begitulah pengalaman Suhadi Sukama, pemilik sekaligus Dewan Komisaris PT Villa Domba Niaga Indonesia, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang penggemukan dan pembibitan domba Garut, di Kabupaten Bandung.

Mulanya ia menggarap bisnis perkebunan vanila. Ternyata budi daya vanilla yang membutuhkan banyak pupuk, memaksa Suhadi untuk menghemat pembelian pupuk dengan cara memelihara domba.

Dari situlah muncul ketidaksengajaan itu. Domba yang semula hanya dimanfaatkan kotorannya saja terus bertambah, seiring kebutuhan pupuk yang juga kian meningkat. Bahkan kemudian, menjadi salah satu kran bisnis yang mengalirkan banyak keuntungan.

Dampaknya, bisnis budidaya tanaman Vanila pun berjalan mulus, lantaran ditunjang kelancaran suplai pupuk yang berasal dari kotoran domba. Tombak bermata dua, begitu Suhadi menyebut bisnis yang saat ini tenga ia geluti bersama keluarganya, di kawasan Perbukitan Desa Jatisari, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung.


Dikenal Senang Berbagi Ilmu

Nama Villa Domba memang cukup dikenal oleh masyarakat peternak domba di Jawa Barat. Selain memiliki manajemen yang tergolong rapih, mereka pun senang berbagi ilmu dengan para peternak, atau siapapun yang ingin terjun menyelami bisnis ternak domba.

Saat ini, bisnis ternak domba dengan sistem pemberdayaan peternak yang diterapkan Villa Domba sudah melibatkan 100 Kepala Keluarga (KK) di sekitar lokasi. Setiap KK diberikan amanah hingga 10 ekor domba. Dari 100 Mitra Peternak itu, tak kurang dari 100 ekor domba bisa terjual setiap bulannya.

Bisnis peternakan Villa Domba tidak semata terfokus pada pola penggemukkan domba seperti peternak pada umumnya. Pola pembibitan, mulai dari produksi anak domba yang dijual ke peternak lain untuk penggemukkan dan produksi anak domba yang dipelihara untuk penggemukkan jelang kurban, juga di terapkan di perusahaan keluarga ini.

Impian 10 tahun silam
Memiliki bisnis sendiri memang sudah menjadi impian Suhadi Sukama sejak tahun 2000, saat ia masih berstatus sebagai karyawan PT Pertamina Gas (Pertagas), perusahaan yang bergerak dalam sektor hilir industri gas Indonesia yang berkedudukan di Jakarta.

Saat itu ia berpikir, sembilan tahun ke depan, tahun 2009, ayah empat anak ini akan menghadapi masa pensiun. “Pegawai itu berani memulai, harus berani juga mengakhiri. Saya bisa nebak kalau nanti saya pensiun bagaimana keluarga saya. Padahal mereka harus bertahan hidup. Kadang orang saking sibuknya lupa bahwa kelak ia akan keluar kerja,” ungkap pria kelahiran Cirebon 5 Mei 1950 itu, kepada Alhikmah.

Bisnis Vanila kemudian menjadi daya tarik Suhadi, lantaran harganya yang tak pernah turun dari tahun ke tahun. Sayangnya, kualitas vanila Indonesia dipandang sebelah mata, sehingga tak layak ekspor.

Inilah yang kemudian menjadi pemicu semangat bisnis Suhadi. “Saya agresif dalam bisnis setelah memperhitungkan risikonya. Kalau bisnis ngambil yang risikonya rendah, sudah banyak orang yang main disitu, dan pasarnya akan jenuh,” ungkap lulusan Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1979 ini.

Setelah banyak mempelajari literatur tanaman Vanila, tahun 2002 secara bertahap Suhadi membeli lahan di kawasan Banjaran, Kabupaten Bandung. Setelah penanaman Vanilla berlangsung, Suhadi tidak menyangka jika ternyata kebutuhan pupuk untuk merehabilitasi tanah begitu besar. Sekitar 30 ton per hektar lahan yang ditanami vanila.

Padahal, harga pupuk saat itu mencapai Rp 1000 perkilogram, atau sekitar 30 juta rupiah sekali pupuk. Dalam setahun, tanaman vanila idealnya dipupuk sebanyak dua kali. Berarti selama setahun, Suhadi harus mengeluarkan uang sebanyak 60 juta rupiah.

Suhadi pun putar otak. Ia akhirnya berpikir untuk beternak domba saja agar kotorannya bisa ditampung dan dijadikan pupuk, ketimbang harus membeli pupuk dengan harga yang selangit.

Awalnya hanya 8 ekor domba yang dipelihara. Namun, tak lama berselang, jumlah itu bertambah menjadi 30 ekor, dan terus berreproduksi hingga memenuhi kapasitas pemupukan yang ideal.

Suhadi menjalani bisnis ini saat ia masih bekerja di Pertagas. Saban akhir pekan, hari Sabtu dan Ahad, Suhadi bersama sang istri tercinta Tuti Setiawati, menyempatkan diri ke Bandung.

Mereka berdua tanpa sungkan menginap di kandang domba, ditemani temaram cahaya lampu petromak. “Saya pake senter ke sini dan tidur sama istri pake jaket. Itu ga masalah bagi istri saya. kita mau nginep dimana saja oke. Sama seperti saya kecil,” tutur pria yang saat masih kecil sempat merasakan hidup di pasar Induk Babatan, Bandung (sekarang Pasar Baru).

Lantaran kerap terlihat dijadikan tempat menginap oleh pemiliknya, masyarakat sekitar menyebut lokasi kandang domba itu dengan nama Villa Domba. Sebuah ‘satir’ dari masyarakat, yang kelak menjadi merk usaha mereka.

Pensiun Sambil Tersenyum
Tepat bulan Maret tahun 2009 lalu, masa pensiun itu tiba. Suhadi Sukama pun tersenyum. Jerih payah usaha bisnisnya yang telah ia rancang sembilan tahun silam dengan peluh bercucuran telah membuahkan hasil.

Bentangan lahan seluas 7 hektar, persis di belakang rumah peristirahatannya di Kabupaten Bandung, selain dimanfaatkan untuk budidaya Vanila, juga tanaman lainnya semisal kopi, jati dan tentunya peternakan domba. Total aset usahanya kini mencapai milyaran rupiah.

Dalam masa pensiunnya di perbukitan Desa Jatisari, pasangan Suhadi Sukama – Tuti Setiawati tampak begitu bahagia. Sesekali mereka menatap santai kedua buah hatinya, Agus Ramada Setiadi dan Alam Yanuardi, yang tengah asyik memandu para wisatawan yang sengaja datang, sekedar menikmati suasana yang menyejukkan, atau bahkan ingin menyelami resep sukses bisnis keluarga ini.

Diterbitkan oleh Tabloid Alhikmah Edisi 45

1 komentar:

Posting Komentar