Kumpulan tulisan Muhammad Yasin, Wartawan, Blogger dan pebisnis online

Minggu, 06 Maret 2011

Menjadi Muslim Kreatif

Masih ingat Dora the Explorer, sosok kartun yang selalu membawa peta di ranselnya agar cepat sampai ke tujuan tanpa harus tersesat. Kira-kira begitu jika memanfaatkan GPS (Global Positioning System), sebuah piranti lunak yang banyak ditemukan di handphone, komputer dan alat lain yang tersambung internet atau signal.

GPS tidak hanya menampilkan peta saja, jika kita berpindah dari satu tempat ke tempat lain informasi kecepatan perpindahan pun akan muncul. Bahkan, ketika kita terjebak macet, GPS memberitahu jalan tercepat atau jalan alternatif. Selain itu, GPS juga memiliki fungsi kompas sebagai penentu arah.

Jutaan orang di dunia kini sudah merasakan manfaatnya. Tapi tahukah Anda siapa orang yang paling berjasa dalam menemukan peta dan kompas yang terintegrasi di dalam GPS?

Orang tersebut adalah Abu Abdullah Muhammad Ibn Muhammad ibn Abdullah Ibn Idris Ash Sharif atau dikenal dengan nama Idris, seorang muslim yang lahir di Ceuta, Spanyol (1100-1166 M). Masyarakat barat menyebutnya sebagai ahli geografi, ahli peta bumi dengan dilengkapi penggunaan kompas, yang sempat memberikan bola dunia dari perak seberat 400 ons untuk raja Roger II dari Sicilia.

Buku Idris yang berjudul Nuzhat al Mushtaq fi ikhtiraq al Afaq (kesenangan untuk orang-orang yang mengadakan perjalanan menembus berbagai iklim) menjadi ensiklopedi berisi peta secara detil dan informasi lengkap Negara Eropa. Buku berikutnya Rawd Unnas wa Nuzhat al Nafs (kenikmatan lelaki dan kesenangan Jiwa) menjadi kompilasi ensiklopedi tentang kaum negro dari Timbuktu di Sudan dan asal sumber sungai Nil di Mesir yang paling akurat.

Karena kecermerlangannya, masyarakat barat menyebutnya ahli Geografi terbesar abad pertengahan. Bahkan Christoper Columbus menggunakan peta asli yang dibuat Idris dalam setiap penjelajahannya.

Apakah hanya sebatas ilmu geografi saja keahlian dari Idris, ternyata ada keahlian lain yang tak kalah menakjubkan, ia ternyata ahli ilmu kedokteran. Kitab Al jamil Sifat Ashtat al Nabatat sebuah buku yang memadukan semua literatur kedokteran ilmuwan Islam ditambah dengan riset yang dilakukannya telah diterjemahkan oleh beberapa bahasa. Diantaranya Spanyol (1793), Jerman (1828), Perancis (1840) dan Italia (1885).

Idris tentu tidak sendiri ada banyak ilmuwan Muslim kreatif lainnya yang berhasil menemukan suatu cara unik untuk kemaslahatan umat manusia. Kita kenal dengan Nizam Al Mulk (w 1067), pelopor universitas modern pertama di dunia yang dikenal dengan Nizamiyyah. Saat ini konsepnya ditiru oleh Universitas Oxford di Inggris.

Begitu juga Ibnu Al Haytsam (w 1039 M), pelopor bidang optik dengan kamus optiknya Al Manazhir. Ia berhasil menemukan hukum pemantulan dan pembiasan cahaya jauh sebelum Snellius. Ia juga penemu alat ukur ketinggian bintang kutub. Ia pernah menerangkan pertambahan ukuran bintang-bintang dekat zenith jauh sebelum Roger Bacon, Leonardo da Vinci, Keppler, dan Newton.

Belum lagi Al Khwarizmi (w 850 M) penemu logaritma dan aljabar, ilmu bumi yang menyatakan bumi itu bulat jauh sebelum Galileo, dengan bukunya Kitab Surah al Ardh. Ibnu Rusydi (w 1198 M) atau Averusy; ahli fisika, ahli bahasa, ahli filsafat Yunani kuno.

Kemudian Ibnu Sina (w 1037) atau Aveciena, dokter, psikolog, penulis kaidah kedokteran modern, penulis buku tentang fungsi organ tubuh, peneliti penyakit TBC, diabetes dan penyakit yang ditimbulkan oleh efek pikiran.

Serta masih banyak lagi ilmuwan muslim lainnya yang berhasil menemukan sesuatu yang berguna bagi manusia 
sekarang ini. Hebatnya lagi, rata-rata para ilmuwan muslim terdahulu tidak hanya memiliki satu atau dua keahlian saja, melainkan beragam.

Di era kontemporer, tak sedikit sebenarnya, cendekiawan muslim yang sudah mendapat pengakuan dunia. Dr. Abdussalam, misalnya. Fisikawan asal Pakistan ini dikenal sebagai pengembang teori big bang dan big chrung. Suatu teori tentang awal mula dan akhir dari alam semesta.

Kemudian Muhammad Yunus. Ekonom asal Bangladesh ini adalah pendiri Grameen Bank (Bank Desa), sebuah lembaga keuangan yang memfokuskan diri membantu kalangan lemah untuk keluar dari jerat kemiskinan. Bank Dunia yang sebelumnya memandang program ini sebelah mata, malah mengadopsi gagasan kredit mikronya. Lebih dari 17 juta orang miskin di seluruh dunia telah terbantu dengan program kredit mikro ini. Atas prestasinya tersebut, Yunus diganjar Nobel Perdamaian tahun 2006 lalu.

Di belahan bumi Eropa, saat situs jejaring sosial semisal Facebook, Twitter, Plurk, Myspace, dan lainnya tengah mewabah di seluruh dunia, Mohamed El-Fatatry dan Pietari Paivenen, entrepreneur asal Finlandia meluncurkan Muxlim Inc. Sebuah situs jejaring sosial, khusus komunitas muslim 2006 lalu. BBC London, bahkan menempatkan muxlim sebagai salah satu situs jejaring sosial dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Sedangkan surat kabar terkemuka di Finlandia, Helsingin Sanomat, pada 2008, memasukkan Muxlim Inc dalam 100 perusahaan tersukses di negara itu. Belum termasuk Majalah teknologi terkemuka di Amerika Serikat (AS) yang menobatkan Muxlim sebagai salah satu best tech start-ups dari Eropa.

Berikutnya, Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden ketiga republik ini. Prestasinya di bidang desain dan konstruksi Pesawat sudah tidak diragukan lagi. Ia terlibat berbagai proyek desain dan konstruksi pesawat terbang, semisal Fokker F 28, Transall C-130, Hansa Jet 320 Air Bus A-300, pesawat transport DO-31, CN-235, dan CN-250.

Selama bekerja di MBB, perusahaan high-tech di Jerman, Habibie menyumbang berbagai hasil penelitian dan sejumlah teori untuk ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang Thermodinamika, Konstruksi dan Aerodinamika. Beberapa rumusan teorinya dikenal dalam dunia pesawat terbang seperti “Habibie Factor“, “Habibie Theorem” dan “Habibie Method“.

Masih di Indonesia. Seorang Onno W. Purbo dikenal luas sebagai penggagas internet murah. Pakar teknologi informasi yang digelari ‘Profesor Internet’ ini berpendapat, kebangkitan suatu bangsa harus ditempuh dengan cara membuka akses informasi seluas-luasnya bagi rakyat, dengan cara menekan biaya komunikasi semurah mungkin, bahkan gratis sama sekali. Mimpi muslim kelahiran Bandung 17 Agustus 1962 ini adalah terciptanya Telkom rakyat, agar rakyat tak lagi harus membayar tagihan telepon, lantaran bisa membangun sistem telekomunikasi mandiri.

Salah satu karyanya yang fenomenal adalah RT RW Net atau Internet RT RW. Selain dapat mengakses internet selama 24 jam non stop, RT RWnet pun dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain, semisal intranet atau layanan VoIP ( Voice Over Internet Protocol ), yaitu kemampuan melakukan percakapan telepon antara pengguna komputer melalui jaringan internet sehingga dapat berinterkom sesama rekan tetangga, mungkin se- RT/RW, se-Indonesia, bahkan se-dunia.

Atas kepakaran dan konsistensinya untuk memudahkan penggunaan teknologi informasi, utamanya bagi rakyat kebanyakan, sederet penghargaan berhasil ia raih, antara lain: ASEAN Outstanding Engineering Achievement Award dari ASEAN Federation of Engineering Organization (1997), Golden Award for Indonesian Telematika Figure dari Kamar Dagang Indonesia (2000), dan berbagai penghargaan lainnya. Onno bahkan tercatat dalam buku ‘American Men and Women of Science’ (1992).

Apa itu Kreativitas?
Secara umum, kreativitas kerap didefinisikan sebagai daya cipta dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Umumnya, kreativitas akan memunculkan inovasi, yaitu kemampuan untuk memperbaharui hal-hal yang telah ada. Bila kreativitas itu daya cipta/ kemampuan, maka inovasi merupakan hasil atau produk, buah kreativitas.

Dalam makalahnya “Penelitian, Kebenaran dan Kreativitas dalam Paradigma Islam”, Dr. Ing Fahmi Amhar, Peneliti Utama, Bakosurtanal menuliskan, ketika nilai kebenaran dijadikan sandaran untuk memahami alam semesta, kehidupan dan manusia, kreatifitas diperlukan untuk menjawab tantangan permasalahan yang dihadapi di dunia ini. Kreatifitaslah yang menjadikan suatu bangsa unggul dalam ilmu dan teknologi, dan bukan nilai kebenaran atau kebijaksanaan yang mereka kumpulkan.

Fahmi membagi kreativitas dalam suatu matriks 3 x 3. Pada sumbu datar adalah jenis kreatifitas dari segi kematangan untuk digunakan, yaitu observatif – analitif - kreatif. Sedang pada sumbu tegak adalah tingkat kesulitan mendapatkannya, yaitu aplikatif – modifikatif – inovatif.

Riset observatif-aplikatif artinya pengamatan mencari data dengan menggunakan teknik yang telah lazim diketahui, hanya diterapkan pada medan yang baru. Jarang kita kembangkan metode observasi yang baru untuk menangkap fenomena yang sebelumnya sulit didekati.

Riset analitif-aplikatif artinya analisis antara berbagai data dengan menggunakan pisau analisis yang telah ada. Kembali di sini, jarang ditemukan pengembangan baru, sekalipun hanya modifikasi. Riset jenis inilah yang paling populer, sehingga di berbagai perguruan tinggi, seakan-akan tak mungkin ada riset tanpa statistik dan data real. Padahal untuk riset jenis kreatif, kehadiran statistik atau data real tidak terlalu mutlak, karena yang lebih penting adalah terciptanya suatu alat atau software yang bisa digunakan.

Namun, riset kreatif di negeri muslim umumnya juga hanya aplikatif, sekedar menggunakan (try-out) produk yang sudah dibuat orang dari negara maju.

Alangkah jarang kita dapatkan riset observatif atau analitif yang inovatif, yang bila memiliki dampak yang besar bagi kemanusiaan, pantas dihadiahi Nobel atau yang setara dengan itu. Demikian juga riset kreatif, yang sekalipun sifatnya modifikatif, tapi sering pantas dilindungi paten – agar tidak dibajak oleh kapitalis bermodal raksasa, yang melihat penemuan itu memiliki nilai komersial yang sangat tinggi.

Paradigma kreatifitas ini yang harus dikembangkan di masyarakat muslim sehingga mereka tidak perlu hanya bersifat defensif menghadapi serbuan teknologi Barat, yang kadang disisipi pemikiran dan ideologi Barat, namun sebaliknya bisa proaktif mengekspor teknologi, pemikiran bahkan ideologi Islam ke Barat, sehingga Islam benar-benar menjadi rahmat seluruh alam.

Senada dengan Fahmi, Guru Besar Universitas Islam Bandung, Profesor Maman Abdurrahman mengatakan bahwa substansi kreativitas adalah orientasi untuk sebuah kemaslahatan, baik untuk diri maupun lingkungan. Artinya, kreativitas itu bisa muncul secara personal untuk kebutuhan diri sendiri, bisa juga untuk kemaslahatan umat. Tapi tidak dapat dipungkiri, bahwa kreativitas yang personal pun bisa jadi bermanfaat sosial bagi banyak orang.

Elemen Kepribadian Muslim
Sahabat Rasulullah, Anas bin Malik meriwayatkan, suatu hari ada pengemis dari Anshar datang meminta-minta kepada Rasulullah. Lalu beliau SAW bertanya, “Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?” Pengemis itu menjawab, “Tentu, saya mempunyai pakaian untuk sehari-hari dan sebuah cangkir.”

Rasul berkata, “Ambil dan serahkan kepadaku!” Lalu pengemis itu menyerahkannya, kemudian Rasul menawarkan kepada para sahabat, “Siapakah di antara kalian yang ingin membeli?” Seorang sahabat menyahut, “Saya beli dengan satu dirham.” Rasul menawarkan kembali,” adakah yang ingin membayar lebih?” Ada seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham.

Rasul meminta pengemis itu membeli makanan dengan uang tersebut untuk keluarganya, dan selebihnya, beliau memerintahkan untuk membeli kapak. Rasul berkata, “Carilah kayu sebanyak mungkin dan juallah. Selama dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu.” Sambil melepas kepergiannya, Rasulullah memberinya uang untuk ongkos.

Setelah dua minggu, pengemis itu datang lagi menghadap Rasul sambil membawa uang sepuluh dirham hasil dari penjualan kayu. Lalu Rasul menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya, seraya bersabda, “Hal ini lebih baik bagimu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat seseorang tidak bisa berusaha.” (H.R. Abu Daud).

Saat Madinah diancam akan diserang oleh pasukan Quraisy yang didukung 10 ribu personil militer dari suku-suku lainnya, sahabat Rasulullah, Salman Alfarisi mengusulkan untuk membuat parit-parit di seputar kota. Hal ini mengingat jumlah personil kaum muslimin yang jauh lebih sedikit ketimbang pasukan musuh.

Meski ide Salman terdengar asing kala itu, atas pertimbangan matang Rasulullah, saran tersebut diterima. Akhirnya, dengan penerapan strategi membuat parit (Khandaq), kaum muslimin berhasil memenangkan peperangan.

Begitu indahnya Rasulullah dalam mendidik para sahabatnya untuk berkarya, mengatasi beragam problematika hidup. Rasulullah sadar betul bahwa setiap orang memiliki potensi kreatif. Namun terkadang, dibutuhkan stimulan untuk membangkitkan potensi tersebut.

Agar kemudian kreativitas seorang muslim tidak keluar dari rel Din al Islam, tentu diperlukan semacam interkoneksi antar elemen dalam kepribadian seorang muslim. Hal ini dipandang penting, karena Islam bukan sekedar ajaran yang diyakini dan dipahami, lantas terhenti tidak sampai ke tataran aplikasi.

Menjadi muslim kreatif, misalnya. Tentu tak lepas dari aspek-aspek kepribadian seorang muslim lainnya, mulai aspek ruhiyah, fikriyah, hingga amaliyahnya. Ruhiyah yang baik logisnya akan melahirkan akidah yang lurus dan mantap, tak tergoyahkan. Fikriyah yang cemerlang tentu bermula dari wawasan keislaman yang matang, dan pola pikir islami yang berawal dari satu sumber, yakni kebenaran dari Allah SWT. Sehingga membuahkan kreativitas yang unggul, dan dirasakan manfaatnya oleh umat. Amaliyah yang terjaga akan memunculkan konsistensi lisan dan perbuatan pada pribadi-pribadi muslim.

Mudah-mudahan, setiap kita segera tersadar ihwal urgensi menjadi muslim kreatif. Jika demikian, bersegeralah memulai langkah untuk menjalani tahapan prosesnya secara proporsional. Niscaya tantangan zaman yang tampak demikian kompleks, bisa kita lalui dengan elegan. Insya Allah.

Penulis : Muhammad Yasin
Peliput : Siti Rokayah
Diterbitkan oleh Tabloid Alhikmah edisi 43

1 komentar:

Posting Komentar