Kumpulan tulisan Muhammad Yasin, Wartawan, Blogger dan pebisnis online

Jumat, 03 Juni 2011

‘Letkol’ Nasrudin Komandan Peternak Lele Sangkuriang

Penampilannya sederhana, bersahaja dan riang. Saat berbincang tentang ikan jenis lele, sejuta komentar meluncur dari mulutnya. Tentu saja, karena dialah Nasrudin, pengusaha lele ‘Sangkuriang’, yang belakangan tengah menjadi bahan perbincangan banyak orang di negeri ini.

Letkol (Letnan Kolam) Nasrudin, sang Penanggul kemiskinan, demikian masyarakat sekitar tempat tinggalnya menjuluki ayah empat anak ini, lantaran kepekaan sosialnya yang terbilang tinggi. Keberhasilannya membudidayakan lele sangkuriang tidak ia rahasiakan. Justru ia bagikan kepada masyarakat banyak di berbagai wilayah di Indonesia.

Sejak mula, peternak yang tak lulus Sekolah Dasar (SD) ini bercita-cita ingin memberdayakan masyarakat yang menganggur, korban PHK, pensiun, putus sekolah serta masyarakat pesantren.

Dengan ketekunannya menjalani proses, plus perjuangan yang tak kenal lelah, mimpinya itu akhirnya terwujud. Kini saban hari antara 50-70 orang dengan beragam profesi dari 32 Provinsi, berbondong-bondong datang ke tempat tinggalnya di Kampung Sukabirus, Desa Gadog, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. 

Di tempat yang juga difungsikan sebagai ‘Training Center’ itu, mereka selami hal ihwal budidaya lele sangkuriang langsung dari ahlinya. Selain melatih di kampung halaman, ia pun banyak mengisi seminar-seminar wirausaha di berbagai Provinsi.

Awal Mula Lele Sangkuriang
Saat Orde Baru berjaya, Nasrudin yang kala itu bekerja sebagai petani merasa tenang, bahkan santai. Benih, pupuk serta obat-obatan disubsidi pemerintah, sehingga harga beras relatif stabil.

Semua itu perlahan sirna saat krisis ekonomi mendera Indonesia tahun 1998. Jutaan orang termasuk Nasrudin kewalahan menghadapi kebutuhan hidup yang melangit.

Meski begitu, prinsip Nasrudin ‘Lebih baik menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan’. Tahun 2001, ia melirik budidaya lele yang tengah diteliti genetiknya oleh Balai Budidaya Air Tawar (BBAT), Sukabumi, Jawa Barat.

BBAT melakukan perbaikan mutu lele dumbo melalui perkawinan silang-balik antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam (F6). Induk betina F2 merupakan koleksi BBAT Sukabumi, berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang didatangkan dari Afrika tahun 1984. Adapun induk jantan F6 merupakan induk yang ada di Boyolali Jawa Timur.

Saat itu Nasrudin diberi 2 ekor betina dan 1 ekor pejantan dari hasil kawin silang tersebut. Satu pesan yang masih teringat oleh Nasrudin saat itu. “Kamu tidak akan bisa mengembangbiakan lele jenis ini tanpa buatan (disuntik),” kata Irhin, salah seorang petugas BBAT.

Namun, bagi Nasrudin tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Ia kemudian membuat dua buah kolam. Satu di bawah rumahnya, satu lagi di belakang rumahnya. Dua kolam ini dibuat secara alami dengan diberi lubang-lubang, bebatuan serta beberapa ikat injuk.

Enam hari kemudian terlihat banyak telur di kolamnya. Nasrudin kegirangan. Setelah menetas, dua minggu kemudian muncul keanehan. Dari tubuh bagian bawah makhluk itu muncul sesuatu mirip kaki. Terang saja, karena ternyata itu bukan anak ikan lele, melainkan kecebong, anak katak.

Nasrudin tidak menyerah. Ia buang kecebong itu dan mengganti air kolam dengan air yang jernih. Malamnya Nasrudin perhatikan lele-lele itu saling mengejar dan perut betinanya tampak membesar.

Keesokan harinya, Nasrudin menemukan banyak telur yang berada di pinggiran tembok kolam. Dengan sigap ia langsung pisahkan lele-lele tersebut ke kolam satunya lagi. Kali ini dugaannya benar, telur tersebut berasal dari lele betina.

Dari ratusan ribu telur yang menetas, yang menjadi bakalan lele hanya 1000 ekor dengan ukuran sekitar 2-3 cm. kemudian ia jual seharga Rp 150. Melihat keuntungannya yang besar, satu persatu sawahnya ia rombak menjadi kawasan budidaya ikan lele.

Sekitar 13.000 m2 ia habiskan untuk membuat kolam yang terdiri dari kolam pamijahan (tempat bertelur), kolam penetasan dan kolam pembesaran. Kolamnya sendiri dibuat dengan menggunakan terpal dan sebagian diantaranya ditembok.

Secara teori dan pengalaman para peternak, budidaya lele jenis ini tidaklah mudah. Demikian halnya yang dialami Nasrudin. Mulai dari Suhu, racun tanah, polusi udara serta pakan, memiliki pra-syarat yang cukup rumit.

Tapi, Nasrudin selalu berusaha mencari tahu alasannya, meski harus mengalami banyak kegagalan. Sampai kemudian ia menemukan kuncinya. Bahkan ia pun berhasil meramu pakan lele dengan ramuan herbal khusus.
“Mereka, para peternak lele beraninya di dalam ruangan. Kalau saya enggak. Di lapangan yang terkena hujan, suhu dingin atau panas, lele saya enggak mati,” kata Nasrudin.

Nama Sangkuriang
Karena lele jenis baru tersebut belum diberi nama, banyak masyarakat yang bertanya kepada Nasrudin. Maka, setengah bercanda Nasrudin mengatakan, “Sangkuriang.” Alasannya, tempat dimana lele ini dilahirkan terkenal dengan legenda Sangkuriangnya.

Kian hari nama Nasrudin kian meroket. Berbagai lembaga pun lantas berdatangan guna mendukung perjuangan Nasrudin. Mereka diantaranya; Balai Budidaya Air Tawar (BBAT), Dirjen Kelautan dan Perikanan, Penyuluh kecamatan Megamendung, serta beberapa lembaga lainnya.

Akhir tahun 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan mengundang Nasrudin untuk mengisi seminar Lele sangkuriang dihadapan peserta dari 28 Provinsi. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS. Menteri Kelautan dan Perikanan saat itu, turut hadir meresmikan nama ‘sangkuriang’ sebagai salah satu nama jenis lele.

Keunggulan Lele Sangkuriang
Lele Sangkuriang, menurut Nasrudin, mampu memproduksi telur lebih banyak, yaitu sekitar 40 ribu-60 ribu butir telur/kg. Berbeda dengan Lele Dumbo yang hanya memproduksi 20 ribu-30 ribu butir telur/kg.

Masih menurut Nasrudin, Lele Sangkuriang relatif lebih tahan terhadap penyakit, karena mampu meredam serangan beragam bakteri. “Benih lele sangkuriang dengan ukuran 7 – 8 cm hanya memerlukan waktu sekitar 50 hari untuk mencapai panen, sedang lele dumbo mencapai tiga bulan,” katanya.

Selain itu, kualitas kandungan protein yang terdapat di lele sangkuring sangat tinggi, rasanya gurih dan tidak bau amis. Bahkan sebagian orang ada yang menyamakan rasanya seperti rasa udang yang berkualitas.

Masyarakat pun mulai tertarik mengonsumsi Lele sangkuriang. Tak heran jika permintaan pun melonjak. “Pemasaran lele sangkuriang masih luas, kebutuhan Jabodetabek 200 ton perhari. Belum termasuk kebutuhan olahan lainnya dan ekspor,” tutur Abah, sapaan akrab Nasrudin.

Dari Lilin Berubah Lampu
Siapa sangka, Nasrudin yang hanya seorang petani desa telah mampu menularkan spirit kewirausahaan ke seluruh pelosok Tanah Air. Berkat Lele Sangkuriang, Nasrudin menjelma menjadi wirausahawan sukses. Konon, omzet yang diraih bisa mencapai 100 juta/ tiga bulan dari satu kolam ikan lelenya.

Lilin yang dinyalakan Nasrudin saat kegelapan menyergap kini berubah menjadi lampu yang berpijar menerangi sepi. Lampu itu adalah Lele Sangkuriang, buah kreativitas dan ketekunannya membudidayakan lele jenis baru.

Meski kehidupannya kini berubah lantaran keuntungan yang berlimpah, Nasrudin tetap hidup dalam kesederhanaan. “Bagi saya, kemewahan adalah bisa tidur nyenyak, berkumpul dengan saudara, dan mempunyai iman pada Allah SWT,” pungkasnya.

Diterbitkan oleh Tabloid Alhikmah edisi 48

9 komentar:

Posting Komentar